Samarinda — Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian tak terbendung, pelajar hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Radikalisme, intoleransi, hingga paham-paham transnasional kini tak lagi datang melalui jalur konvensional, melainkan merambat melalui gawai, media sosial, dan ruang-ruang pergaulan sehari-hari.
Menyadari urgensi tersebut, Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Kalimantan Timur kembali menggelar Ngobrol Pintar (Ngopi) Jilid II. Bertajuk “Hubbul Wathan Minal Iman, Pelajar Kaltim Tolak Radikalisme,” kegiatan yang digelar di Kopi Jadi, Samarinda, Jum’at (26/6) ini menjadi ruang diskusi sekaligus penguatan wawasan kebangsaan bagi generasi muda.
Hadir sebagai narasumber, Wakil Ketua PWNU Kalimantan Timur Syaparuddin serta personel Densus 88 Mabes Polri Satgaswil Kaltim Briptu Yudika Endrian. Keduanya membedah ancaman radikalisme dari dua sudut pandang berbeda: keagamaan dan keamanan.
Ketua PW IPNU Kaltim Muhammad Alfi Ramadana menegaskan, pelajar adalah kelompok strategis yang harus diperkuat pemahaman kebangsaan dan keagamaannya.
“Arus informasi yang begitu cepat, perkembangan media sosial, dan masuknya berbagai ideologi transnasional menjadi tantangan tersendiri. Pelajar harus dibekali dengan wawasan kebangsaan yang kuat dan pemahaman keagamaan yang moderat,” ujarnya.
Menurut Alfi, IPNU sebagai organisasi pelajar Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kader-kadernya agar tetap berada pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah, semangat kebangsaan, serta kecintaan terhadap NKRI.
Sementara itu, Syaparuddin menekankan pentingnya menanamkan konsep Hubbul Wathan Minal Iman—cinta tanah air adalah bagian dari iman—sejak dini. “Islam mengajarkan persaudaraan, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman. Generasi muda harus menjadi perekat persatuan bangsa. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan,” tegasnya.
Di sisi lain, Briptu Yudika Endrian memaparkan area-area yang memiliki potensi kerawanan terhadap penyebaran paham radikal. Ia juga mengingatkan bahwa pola-pola penyebaran kini banyak memanfaatkan media sosial dan lingkungan pergaulan.
“Pencegahan harus dimulai dari kemampuan mengenali gejala dan potensi yang muncul di lingkungan sekitar. Literasi digital dan kemampuan berpikir kritis menjadi benteng penting bagi generasi muda,” jelasnya.
Diskusi berjalan interaktif. Peserta yang terdiri dari kader IPNU, pelajar, mahasiswa, dan pemuda Samarinda antusias mengajukan pertanyaan seputar ancaman radikalisme, peran pelajar, hingga upaya menjaga kerukunan di tengah perbedaan.
Di akhir acara, Alfi menyampaikan bahwa PW IPNU Kaltim tengah menggagas Sekolah Pelajar Kebangsaan sebagai program strategis ke depan. Program ini akan menjadi ruang pembelajaran dan penguatan karakter pelajar melalui kolaborasi dengan berbagai elemen—organisasi kepemudaan, akademisi, tokoh agama, aparat keamanan, pemerintah, hingga komunitas masyarakat.
“Program ini akan berfokus pada penguatan wawasan kebangsaan, cinta tanah air, moderasi beragama, serta pencegahan dan penanggulangan radikalisme di kalangan pelajar,” ungkap Alfi.
Ia berharap, program tersebut dapat menjadi wadah kaderisasi kebangsaan sekaligus melahirkan generasi muda Kaltim yang memiliki komitmen terhadap persatuan, toleransi, dan keutuhan bangsa.
Melalui Ngobrol Pintar Jilid II ini, PW IPNU Kalimantan Timur kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang-ruang edukasi dan dialog yang mampu memperkuat karakter pelajar, menumbuhkan semangat nasionalisme, serta membangun generasi yang moderat, toleran, dan cinta tanah air.













