Top Banner
AdventorialKutim

Menjaga Harmoni di Pesisir Kutim: Khidmat Ritual Belian Kutai Menolak Bala di Sandaran

514
×

Menjaga Harmoni di Pesisir Kutim: Khidmat Ritual Belian Kutai Menolak Bala di Sandaran

Sebarkan artikel ini

SANDARAN — Detak gendang tradisional bersahut-sahutan memecah keheningan pagi di Balai Adat Desa Marukangan, Kecamatan Sandaran, Kutai Timur (Kutim). Di ruang balai yang dipadati warga berbusana adat khas Kutai, alunan ritmis tersebut menandai dimulainya prosesi sakral Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas.

Ritual tahunan ini bukan sekadar seremonial budaya atau pertunjukan visual semata. Bagi masyarakat lokal, ini adalah wujud nyata keimanan dan upaya spiritual untuk memelihara harmoni yang murni antara manusia, alam semesta, dan Sang Pencipta.

Khidmatnya prosesi ini disaksikan langsung oleh jajaran pejabat daerah dan tokoh adat setempat, di antaranya: Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, Plt Camat Sandaran, Mulyadi, Kepala Desa Marukangan, Endi Haryanto, Ketua Pemangku Adat Kutai, Kasmo, dan Ketua Panitia, Awang.

Menjaga Wajah Tradisi di Tengah Arus Modernisasi

Pelaksanaan Erau Embuang Panas di Marukangan tahun ini menyedot perhatian luas dari berbagai lapisan masyarakat. Ritual pelas atau penyucian kampung ini diyakini warga sebagai benteng spiritual—sebuah sarana penolak bala sekaligus penetralisir energi negatif yang berpotensi mengganggu ketenteraman desa.

Keberadaan tradisi ini menjadi sangat krusial. Di tengah deru modernisasi dan masifnya aktivitas industri yang kian merambah wilayah pesisir Kutai Timur, masyarakat adat Desa Marukangan memilih untuk tetap teguh. Mereka berdiri menjaga warisan leluhur yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.

“Kecamatan Sandaran yang berbatasan langsung dengan laut lepas menyimpan kekayaan budaya pesisir yang begitu khas. Pelaksanaan Erau di wilayah ini menjadi salah satu benteng pertahanan terakhir dalam menjaga identitas kultural masyarakat Kutai di tengah dinamika zaman yang kian cepat berubah,” ungkap Ketua Panitia, Awang.

Pantun Sakral sebagai Medium Spiritual

Prosesi inti Belian dipimpin langsung oleh pemuka adat setempat. Dengan lantunan nada yang khas, bait-bait pantun sakral dan mantra penolak bala dirapalkan. Setiap bait yang diujarkan menyiratkan doa tulus, dalam Permohonan keselamatan jiwa warga desa, Keberkahan dan kesuburan tanah pertanian serta wilayah pesisir, Perlindungan menyeluruh dari segala bentuk marabahaya.

Bagi masyarakat Kutai, pantun memiliki kedudukan yang sangat melampaui sarana komunikasi lisan atau hiburan. Pantun adalah medium spiritual untuk berkomunikasi dengan alam. Alunan irama musik tradisional yang mengiringi ritual menghadirkan nuansa magis yang mendalam.

Para tetua adat tampak khusyuk mengikuti setiap tahapan, dimulai dari penyucian ruang balai adat hingga bermuara pada puncak ritual “embuang panas”. Ritual puncak ini melambangkan simbolisasi pelepasan unsur-unsur negatif, sengketa, dan mara bahaya agar lenyap sepenuhnya dari lingkungan pemukiman warga.

Estafet Generasi dan Jangkar Moral Pembangunan

Kehadiran para tokoh masyarakat bersanding dengan kaum muda dalam perhelatan ini menjadi sinyal positif keberlanjutan tradisi. Generasi muda Desa Marukangan tampak antusias menyimak setiap detail ritual dari jarak dekat—sebuah proses penyerapan nilai-nilai luhur tentang pentingnya keseimbangan ekosistem dan keharmonisan sosial.

Melihat antusiasme tersebut, para tokoh adat berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus memberikan dukungan penuh terhadap agenda pelestarian tradisi. Sebab, di balik gempuran kemajuan infrastruktur dan laju pembangunan ekonomi, keberadaan tradisi adat adalah jangkar moral yang kokoh dalam mengikat solidaritas warga.

Rangkaian Ritual Belian Kutai Pantun Erau Embuang Panas Pelas di Desa Marukangan ini menjadi pembuktian nyata: kebudayaan lokal tidak pernah surut digerus zaman, melainkan terus berdenyut sebagai ruh kehidupan masyarakat pesisir yang arif, tangguh, dan bermartabat.(ADV/prokopim/Kutim)

Total Views: 496

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *