Top Banner
AdventorialKutim

53 Mahasiswa KKN STIPER Diterjunkan ke Kaubun, Berupaya Optimalkan Potensi Pertanian

327
×

53 Mahasiswa KKN STIPER Diterjunkan ke Kaubun, Berupaya Optimalkan Potensi Pertanian

Sebarkan artikel ini

SANGATTA – Sebanyak 53 mahasiswa Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur (Kutim) diterjunkan ke Kecamatan Kaubun untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 45 hari. Program tersebut diarahkan untuk membantu mengoptimalkan potensi desa, mendampingi petani lokal, serta mendorong regenerasi sumber daya manusia sektor pertanian.

Mahasiswa STIPER Angkatan XXII tersebut dilepas langsung Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, di Lobi Kantor Bupati Kutim. Sebelum diberangkatkan, mereka telah memperoleh pembekalan sebagai persiapan menjalankan program kerja di lokasi masing-masing. 

Selama 45 hari, mahasiswa ditempatkan di enam desa di Kecamatan Kaubun. Lokasi tersebut meliputi Desa Bukit Permata, Bumi Rapak, Cipta Graha, Kadungan Jaya, Mata Air, dan Engadan Baru. 

Ketua STIPER Kutim, Dr Ismail Fahmy Almadi, mengatakan Kaubun memiliki potensi agraris yang menjanjikan. Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjalankan program kerja yang telah dirancang, tetapi juga mampu melihat kebutuhan masyarakat dan memberikan gagasan yang relevan.

“Fokus utama penempatan diarahkan untuk mengoptimalkan potensi desa, mendampingi para petani lokal, serta mendorong regenerasi sumber daya manusia di sektor pertanian yang kini menjadi tantangan global,” urainya. 

Di tengah modernisasi, mahasiswa diharapkan membawa gagasan segar, inovasi teknologi tepat guna, dan solusi berkelanjutan bagi masyarakat desa. Program kerja mereka juga diminta dipadukan dengan 50 program prioritas Pemerintah Kabupaten Kutim. 

Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menyebut masa KKN sebagai “kampus kehidupan”. Menurutnya, mahasiswa selama 45 hari akan memperoleh pengalaman untuk mempertemukan teori dengan kondisi nyata di lapangan.

“Kita sudah lama hadir di dalam kampus sekolah, dan adik-adik mahasiswa diberi waktu selama 45 hari untuk hadir di kampus kehidupan yang mempertemukan antara teori dan aplikasi kerja di lapangan,” ujar Ardiansyah. 

Ia juga meminta mahasiswa membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat dan pemerintah desa. Kehadiran mahasiswa STIPER diharapkan dapat menjadi katalis untuk mengidentifikasi potensi sekaligus memecahkan persoalan desa, khususnya sektor agraris dan pemberdayaan ekonomi. 

Ardiansyah turut berpesan agar mahasiswa menjaga nama baik almamater, menjunjung etika, dan beradaptasi dengan kearifan lokal. Melalui KKN tersebut, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah diharapkan semakin kuat.(ADV/prokopim/Kutim)

Total Views: 310

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *