Top Banner
AdventorialKutim

Bukan Hanya Panggung Budaya, Festival UFAH Jadi Ladang Rezeki bagi Bu Long

402
×

Bukan Hanya Panggung Budaya, Festival UFAH Jadi Ladang Rezeki bagi Bu Long

Sebarkan artikel ini

KOMBENG — Festival UFAH 2026 memberikan manfaat ekonomi bagi warga yang ikut mengambil bagian sebagai pelaku usaha. Salah satunya Bu Long, pedagang pakaian adat dan kerajinan Dayak yang memanfaatkan keramaian festival di Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Berbagai produk khas Dayak dibawa Bu Long ke lokasi festival untuk ditawarkan kepada pengunjung. Barang yang dijual antara lain baju Dayak Cawas, topi, kalung, parang baru, rumpi-rumpi, anjat, dan beragam tas. Beberapa tas yang dibawanya juga berisi pakaian yang dijual kepada pembeli.

Menurut Bu Long, menjadi tenan di Festival UFAH bukan hanya bentuk partisipasi dalam memeriahkan kegiatan. Tingginya jumlah pengunjung juga menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan.

Para pedagang yang ikut berjualan selama festival dikenakan pungutan. Namun, Bu Long menyebut nominalnya tidak terlalu besar.

“Dipungut juga sedikit,” ujarnya saat ditemui di lokasi Festival UFAH, belum lama ini.

Ia mengatakan pendapatan dari berjualan memang tidak selalu sama. Ketika berjualan dari rumah, omzet yang diperoleh bisa sekitar Rp1 juta dalam sehari atau lebih. Kondisi tersebut sangat bergantung pada jumlah pembeli yang datang.

Sementara itu, suasana festival memberikan peluang lebih besar. Menurutnya, omzet selama kegiatan dapat mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta per hari. Bahkan, saat kondisi sangat ramai, pendapatannya dapat menyentuh Rp5 juta dalam sehari.

“Tidak tentu juga. Ada satu juta kalau di rumah, kadang begitu, kadang lebih juga. Ada yang Rp2 juta, Rp3 juta, ada juga sampai Rp5 juta kalau ini baru satu hari,” katanya.

Keramaian pengunjung menjadi faktor yang membuat transaksi lebih banyak dibandingkan penjualan biasa.

“Kalau waktu yang begini ada yang beli, ramai. Kalau di rumah kadang-kadang begitu, ada tidak,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat Festival UFAH menjadi ruang pemasaran yang cukup penting bagi produk lokal. Pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan dan rangkaian budaya, tetapi juga dapat melihat serta membeli produk yang ditawarkan para tenan.

Bagi Bu Long, pakaian dan kerajinan Dayak yang dijual memiliki dua fungsi sekaligus. Selain menghasilkan pendapatan, produk tersebut turut memperkenalkan identitas budaya kepada masyarakat yang hadir.

Bu Long memastikan akan mengikuti festival hingga selesai. Festival UFAH dimulai Minggu (9/8/2026) dan berlangsung selama tiga hari. Setelah hari pertama, para pedagang akan berpindah ke bawah kolong Lamin Aruq.

“Ya, sampai selesai. Dari hari ini, tiga hari ke depan. Kami nanti pindah di bawah kolong,” ujarnya.

Keikutsertaan Bu Long menjadi gambaran bahwa Festival UFAH tidak hanya menghidupkan kebudayaan, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk menggerakkan aktivitas ekonomi melalui produk lokal.(ADV/prokopim/Kutim)

Total Views: 394

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *