Top Banner
AdventorialKutim

Data SIGA Jadi Dasar DPPKB Petakan Keluarga Risiko Stunting di Telen

335
×

Data SIGA Jadi Dasar DPPKB Petakan Keluarga Risiko Stunting di Telen

Sebarkan artikel ini

TELEN – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggunakan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA) sebagai dasar pemetaan keluarga berisiko stunting di Kecamatan Telen. Hasil pendataan menunjukkan terdapat 482 kepala keluarga (KK) yang masuk kategori keluarga berisiko stunting (KRS).

Data tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan Layanan Jemput Bola Stop Stunting yang digelar DPPKB Kutim di Aula Kantor Camat Telen, Desa Juk Ayaq, Rabu (26/8/2026).

Sebanyak delapan desa tercatat memiliki keluarga berisiko stunting. Muara Pantun menjadi desa dengan jumlah tertinggi, yakni 148 KK. Juk Ayaq memiliki 98 KK, Lung Melah 75 KK, Nehes Marah Haloq 44 KK, Kernyanyan 43 KK, Long Noran 39 KK, Long Segar 18 KK, dan Rantau Panjang 17 KK.

Plh Kepala DPPKB Kutim Yuriansyah T mengatakan data tersebut menjadi pijakan untuk menentukan keluarga yang memerlukan perhatian dan pendampingan.

“DPPKB itu mendata keluarga yang berisiko stunting. Ketika sudah terkena stunting, penanganan dan eksekusinya menjadi ranah Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Pendekatan jemput bola dilakukan agar keluarga yang teridentifikasi tidak hanya masuk dalam pendataan, tetapi juga memperoleh edukasi serta pendampingan langsung.

DPPKB Kutim dalam kesempatan tersebut menyerahkan bantuan PMT dari Baznas Kutai Timur secara simbolis untuk periode Juni, Juli, dan Agustus. Bantuan berikutnya akan disalurkan melalui PLKB Kecamatan Telen.

Yuriansyah mengatakan pencegahan stunting harus dilakukan dengan melihat berbagai kondisi yang berpotensi memengaruhi keluarga. Faktor tersebut antara lain ketersediaan air bersih, sanitasi, kondisi rumah, keadaan balita, kesejahteraan keluarga, dan penggunaan kontrasepsi.

Salah satu pemetaan dilakukan terhadap keluarga Ibu Rima di Desa Muara Pantun. Dalam keluarga tersebut terdapat anak dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK).

“Tidak mungkin pekerjaan menangani keluarga risiko stunting dilakukan sendiri-sendiri. Harus melalui kolaborasi semua pihak,” tegas Yuriansyah.

Kegiatan turut diisi edukasi layanan penanganan KRS serta sosialisasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Anak Stunting (Genting). Kecamatan Telen menyatakan dukungan terhadap upaya tersebut.(ADV/prokopim/Kutim)

Total Views: 327

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *