Top Banner
AdventorialKutim

Program Cetak Sawah dan Hilirisasi Pangan: Strategi Pemkab Kutai Timur Capai Target Swasembada Beras

348
×

Program Cetak Sawah dan Hilirisasi Pangan: Strategi Pemkab Kutai Timur Capai Target Swasembada Beras

Sebarkan artikel ini

TELUK PANDAN – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak hanya memperluas lahan sawah melalui program Cetak Sawah Rakyat, tetapi juga mulai mendorong penguatan hilirisasi pangan guna memberikan kepastian pasar bagi petani. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga semangat petani dalam meningkatkan produksi padi sekaligus mendukung target swasembada beras.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Bohari, mengatakan program cetak sawah terus dilanjutkan dengan dukungan pemerintah pusat dan CSR. Hingga akhir tahun lalu, sekitar 400 hektare sawah telah berhasil dicetak dari target awal 1.106 hektare.

“Hingga akhir tahun lalu sudah tercetak kurang lebih 400 hektare. Memang ada beberapa kendala teknis di lapangan sehingga program dilanjutkan kembali tahun ini,” ujarnya.

Di tengah upaya tersebut, Bohari mengakui sektor pertanian pangan masih menghadapi tantangan berupa tingginya minat masyarakat terhadap perkebunan kelapa sawit yang dinilai lebih menjanjikan serta memiliki kepastian pasar.

“Memang secara hitungan-hitungan sawit menjanjikan, tetapi kalau pertanian ini dikelola dengan baik sebenarnya hasilnya juga tidak kalah,” katanya.

Ia menjelaskan produktivitas sawah di Kutim rata-rata mencapai lebih dari 3,5 ton gabah per hektare dalam satu musim tanam. Bahkan di wilayah Kaubun, hasil panen pernah mendekati 6 ton per hektare. Dengan dua kali musim tanam setiap tahun, hasil yang diperoleh petani dinilai mampu bersaing dengan sektor perkebunan rakyat.

Menurut Bohari, persoalan utama bukan hanya produktivitas, melainkan kepastian penyerapan hasil panen. Karena itu, pemerintah daerah mulai mendorong pembangunan gudang atau fasilitas Bulog di Kutim agar gabah petani dapat terserap dengan baik dan harga tetap stabil.

“Kadang petani selesai panen, gabahnya belum tersalurkan. Ini yang harus kita kawal bersama agar petani tetap semangat menanam,” ujarnya.

Selain pembangunan fasilitas penyerapan gabah, pemerintah juga melihat mulai tumbuhnya pengolahan beras lokal, termasuk beras asal Kaubun yang telah dipasarkan hingga ke luar daerah. Langkah tersebut diharapkan memperkuat sistem pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Kutai Timur.(adv)

Total Views: 337

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *