Top Banner
AdventorialKutim

Bayang-Bayang Hantavirus di Kutim: Saat Ancaman Mikrofrom Tikus Menuntut Kewaspadaan Dini

337
×

Bayang-Bayang Hantavirus di Kutim: Saat Ancaman Mikrofrom Tikus Menuntut Kewaspadaan Dini

Sebarkan artikel ini

SANGATTA — Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) meningkatkan kewaspadaan publik menyusul laporan kemunculan kasus hantavirus di sejumlah negara yang berujung fatal. Otoritas kesehatan daerah meminta masyarakat untuk memahami potensi penularan patogen tersebut sekaligus memperketat langkah pencegahan berbasis lingkungan di tempat tinggal.

Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan bahwa hantavirus bukanlah penyakit baru dalam dunia epidemiologi. Patogen ini dikenal bersumber dari hewan pengerat, khususnya tikus. Kendati secara global dinilai tidak mendominasi, eskalasi kasus fatal di luar negeri menuntut kesiagaan kolektif.

“Hantavirus ini sebenarnya sudah lama dikenal. Walaupun secara global dinilai tidak terlalu berbahaya, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kondisi berat hingga kematian,” ujar dr Yuwana.

Penularan hantavirus terjadi melalui kontak dengan cairan biologis tikus—seperti urine, air liur, dan kotoran—yang telah mengering dan bercampur dengan debu. Partikel mikroskopis ini dapat terhirup oleh manusia melalui mekanisme aerosol saat melakukan aktivitas harian, seperti menyapu ruangan berdebu, membersihkan gudang, atau merapikan area yang lama tidak terpakai.

Secara klinis, infeksi virus ini menyasar dua organ vital, yakni paru-paru dan ginjal. Pada kasus berat, penderita berisiko mengalami gangguan pernapasan akut hingga gagal napas, atau penurunan fungsi hingga kegagalan kerja ginjal. Gejala awalnya kerap menyerupai infeksi virus biasa, seperti demam, badan melemah, nyeri otot, serta keluhan mirip influenza, sebelum berkembang menjadi kondisi darurat medis.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kutim mengintensifkan edukasi masyarakat terkait sanitasi lingkungan dan pengendalian populasi hama. Warga diimbau untuk mengenakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area berdebu, menutup akses masuk tikus, serta menjaga kebersihan tempat penyimpanan makanan.

Dinkes Kutim juga meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami demam disertai sesak napas atau gangguan fungsi ekskresi, terutama bagi yang memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang terindikasi menjadi sarang tikus.(adv)

Total Views: 325

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *