Top Banner
AdventorialKutim

Bukan Sekadar Timbangan Balita: Menakar Wajah Baru Posyandu Kutai Timur

408
×

Bukan Sekadar Timbangan Balita: Menakar Wajah Baru Posyandu Kutai Timur

Sebarkan artikel ini

SAMARINDA — Stigma bahwa Posyandu hanyalah tempat menimbang balita dan membagikan biskuit tambahan perlahan coba dikikis Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Di Samarinda, puluhan kader dan pengelola Posyandu dari wilayah pesisir Kecamatan Sandaran digembleng dalam Bimbingan Teknis Penguatan Kelembagaan—sebuah langkah awal untuk merombak total wajah pelayanan dasar di tingkat tapak.

Melalui payung hukum Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2024, Posyandu kini diproyeksikan sebagai simpul (nexus) pelayanan publik terdepan. Tak lagi berjalan menyendiri di lorong sektor kesehatan, garda terdepan di tingkat desa ini diwajibkan menyentuh enam Standar Pelayanan Minimal (SPM): kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum, hingga perlindungan sosial.

Menerjemahkan Mandat Baru di Sektor Tapak

Ketua Pembina Posyandu Kabupaten Kutai Timur, Siti Robiah, menegaskan bahwa pergeseran paradigma ini merupakan instruksi pusat yang harus diterjemahkan secara konkret, bukan berhenti sebagai wacana di atas kertas.

“Sesuai dengan Permendagri Nomor 13 Tahun 2024, Posyandu bertransformasi menjadi lembaga kemasyarakatan yang kuat, tidak hanya berfokus pada kesehatan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat. Dengan kolaborasi, kita bisa memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” kata Siti.

Dengan model baru ini, kader Posyandu tidak lagi sekadar mencatat berat badan bayi. Mereka dituntut menjadi penghubung informasi lintas sektor—mulai dari memantau sanitasi lingkungan, memetakan potensi anak putus sekolah, hingga mendeteksi kerentanan sosial di permukiman warga.

Mengawal Kesehatan Sepanjang Siklus Hidup

Dari kacamata medis, pergeseran peran ini diikuti dengan perluasan jangkauan sasaran. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, dr. Yuwana Sri Kurniawati, menjelaskan bahwa Posyandu kini mengadopsi pendekatan berbasis siklus kehidupan (life cycle approach).

Terdapat beberapa terobosan yang kemudian menjadi syarat untuk terealisasinya, diantaranya: Layanan Inklusif,Tidak terbatas pada bayi, balita, dan ibu hamil, Cakupan Sasaran: Merangkul kelompok remaja, usia produktif, hingga lanjut usia (lansia), Deteksi Dini: Memantau ancaman penyakit tidak menular (PTM), masalah gizi buruk, hingga isu kesehatan reproduksi remaja sejak awal.

“Dengan layanan seluruh siklus kehidupan, diharapkan masyarakat akan dapat berpartisipasi dalam kegiatan Posyandu, sehingga masalah kesehatan dapat terdeteksi sedini mungkin,” ujar Yuwana.

Solusi untuk Pesisir Sandaran

Bagi kawasan geografis seperti Kecamatan Sandaran yang berada di wilayah pesisir, penguatan fungsi Posyandu memiliki arti strategis. Di luar fungsi administratifnya, Posyandu didorong menjadi ruang perjumpaan komunal—menghidupkan kembali spirit gotong royong yang kian terkikis oleh dinamika zaman.

Bimbingan teknis selama empat hari di Samarinda ini menjadi ajang konsolidasi lintas sektor. Di tengah tantangan geografis dan ketimpangan akses di daerah, transformasi Posyandu menjadi pertaruhan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dalam mendekatkan kehadiran negara langsung di depan pintu rumah warga.(adv)

Total Views: 396

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *