Top Banner
AdventorialKutim

Ketika Birokrasi Berpadu Seni: Cara Padliyansyah Menjaga Ingatan Kultural Kutai Timur

534
×

Ketika Birokrasi Berpadu Seni: Cara Padliyansyah Menjaga Ingatan Kultural Kutai Timur

Sebarkan artikel ini

Sangatta – Di Sangatta, tempat dinamika pembangunan dan arus modernisasi bergerak cepat, ingatan kultural kerap kali terancam terpinggirkan. Namun, di sudut Kutai Timur (Kutim) ini, nyala kebudayaan tak pernah dibiarkan padam. Sejak 4 Desember 2014, sebuah ruang kreatif bernama Odah Seni Betuah (OSB) terus bernapas, menjadi benteng sekaligus muara bagi para pelaku seni lintas generasi.

OSB tidak lahir dari ruang hampa. Komunitas ini diinisiasi oleh Padliyansyah, seorang figur yang hidup di dua dunia yang kerap dianggap berseberangan: koridor birokrasi pemerintahan dan panggung kesenian rakyat. Sejak awal kelahirannya, OSB dirancang bukan sekadar sebagai forum kumpul-kumpul seniman, melainkan sebuah laboratorium sosial untuk merawat, membina, dan merajut kembali jalinan tradisi yang rentan terputus.

Menembus Sekat Birokrasi demi Tradisi

Perjalanan Padliyansyah berkesenian bukanlah impuls sesaat. Ia telah menggeluti dunia seni sejak masa remajanya pada 1986—sebuah pergulatan panjang selama hampir empat dekade. Uniknya, dedikasi itu tidak menguap ketika ia masuk ke dalam sistem birokrasi pemerintahan.

Rekam jejaknya mencatat posisi strategis dalam pemajuan kebudayaan daerah. Misal, 2017–2023: Mengemban tugas sebagai Kasubbag Perencana Dinas Kebudayaan Kutim. Selanjutnya pada periode 2023–2026: Dipercaya menjabat Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim.

Pengalaman struktur pemerintahan ini tidak lantas mengubahnya menjadi birokrat yang kaku. Justru, kapasitas teknisnya disempurnakan dengan kualifikasi profesional—seperti sertifikasi nasional sebagai Juri Pertunjukan dan Ahli Cagar Budaya. Kombinasi antara legitimasi birokrasi dan kompetensi keahlian inilah yang membuat artikulasi kebudayaan yang ia usung memiliki basis kelembagaan dan substansi yang kokoh.

“Bagi saya, seni dan budaya bukan sekadar kegiatan, tetapi napas kehidupan yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Panggung Multietnis dan Dialog Tradisi

Selama lebih dari satu dasawarsa, OSB menjadi ruang persemaian bagi pelbagai ragam seni tradisi. Salah satu yang konsisten dirawat adalah Sandiwara Mamanda, teater tradisional Melayu yang kaya akan dialog jenaka namun sarat pesan moral. Di samping itu, alunan Musik Tingkilan—kesenian khas Kutai yang memadukan petikan gambus dan ritme gendang—terus dihidupkan melalui koordinasi yang intensif.

Namun, daya tarik Kutai Timur tidak hanya terletak pada satu etnis. 

Sebagai daerah yang dihuni oleh masyarakat heterogen, Kutim adalah miniatur Indonesia. Lewat OSB, Padliyansyah memastikan bahwa ruang ekspresi tidak hanya milik suku Kutai, melainkan juga masyarakat Dayak dan pelbagai etnis pendatang lainnya. Pertunjukan seni yang digagas OSB berfungsi ganda: sebagai wahana estetis sekaligus instrumen perekat harmoni sosial di tengah masyarakat multietnis.

Strategi Regenerasi: Menggratiskan Ruang Belajar

Salah satu tantangan terbesar kesenian tradisional hari ini adalah regenerasi. Menyadari hal tersebut, Padliyansyah mengambil langkah taktis dengan menjangkau lembaga pendidikan—mulai dari sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi—untuk mendirikan kelompok-kelompok teater muda.

Bahkan ketika dinamika birokrasi membawanya ke posisi baru pada 2026 sebagai Kepala Bidang Penataan Desa di DPMDes Kutim, komitmen kulturalnya tidak surut. Jabatan baru di bidang penataan desa justru mempertegas pandangannya bahwa membangun desa tak pernah bisa dilepaskan dari membangun kebudayaannya.

Di Aula OSB Kutim, ia kembali membuka pelatihan teater secara gratis bagi publik. Langkah ini menjadi wujud nyata dari pemaknaan kebudayaan sebagai milik bersama, bukan barang mewah yang terbarikade oleh harga tiket atau formalitas sanggar.

Pada akhirnya, keberadaan Odah Seni Betuah dan konsistensi Padliyansyah memberikan kita sebuah pelajaran penting: kebudayaan tidak cukup hanya dirayakan dalam festival tahunan, tetapi harus dihidupi lewat praktik keseharian, pembinaan yang tekun, dan keberanian untuk terus membuka pintu bagi generasi muda.(adv)

Total Views: 527

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *