SANGATTA — Suara angin pesisir Pantai Sekerat beradu dengan riuh rendah persiapan festival yang kerap menjadi kalender tahunan kebanggaan Kutai Timur. Namun, di balik semarak budaya yang telah mengakar itu, denyut pariwisata di kabupaten terluas kedua di Kalimantan Timur ini sempat berjalan dalam ritme yang lamban. Masalah klasik mendera: mulai dari minimnya fasilitas dasar, promosi yang berjalan setengah hati, hingga ego sektoral yang kerap menghambat gerak langkah.
Kini, angin perubahan berhembus dari kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Timur. Sang kepala dinas yang baru, Mahriadi, memilih tidak banyak mengambil waktu rehat. Di atas meja kerjanya, setumpuk catatan evaluasi dan peta potensi wilayah telah terbuka lebar. Bagi Mahriadi, pariwisata Kutai Timur tidak boleh lagi sekadar menjadi potensi di atas kertas, melainkan harus bertransformasi menjadi lokomotif baru penggerak ekonomi kerakyatan.
“Kami akan mengawali dengan penguatan fondasi, penataan sistem tata kelola, dan konsolidasi kelembagaan,” ujar Mahriadi.
Membenahi yang Asasi: Air Bersih dan Toilet
Bagi pelancong modern, keindahan alam Karst Mangkalihat atau deburan ombak pantai tropis seketika runtuh maknanya tatkala mereka dihadapkan pada persoalan paling mendasar: ketiadaan toilet yang layak dan air bersih. Mahriadi sadar betul, estetika destinasi tidak akan pernah mampu menutupi buruknya sanitasi.
Karena itu, dalam 100 hari kerja pertamanya, prioritas mendesak diarahkan pada pembenahan fasilitas dasar di simpul-simpul wisata utama. Sentuhan infrastruktur kecil namun krusial ini menjadi taruhan pertama untuk mengembalikan kepercayaan pelancong luar daerah.
Tak berhenti pada fisik bangunan, kualitas manusia di balik destinasi turut disentuh. Mahriadi memetakan program pelatihan intensif bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal. Pelatihan ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan upaya menanamkan kesadaran hospitality—bahwa keramahan adalah mata uang yang paling mahal dalam industri pelesiran.
Menembus Batas Lewat Layar Digital dan CSR
Selama bertahun-tahun, pesona Kutai Timur kerap tertutup oleh bayang-bayang daerah tetangga. Strategi promosi konvensional dinilai tumpul. Menjawab tantangan zaman, Mahriadi menyiapkan strategi digital branding yang agresif. Dinas Pariwisata bergeser dari cara-cara lama, bersiap menggandeng media massa secara profesional untuk memperluas jangkauan narasi wisata Kutim hingga ke ruang-ruang digital publik nasional.
Bahkan, jangkauan promosi ini dirancang melompat ke luar batas teritorial kabupaten. Mahriadi membidik Bandara APT Pranoto di Samarinda sebagai etalase strategis. Melalui koordinasi lintas wilayah, ikon purba Karst Mangkalihat—yang disiapkan menuju status Geopark global—direncanakan bakal menyapa setiap pendatang yang mendarat di ibu kota provinsi melalui tayangan videotron.
Namun, birokrasi tentu dihadapkan pada tembok pembatas bernama anggaran. Di sinilah kelihaian manajerial diuji. Mahriadi memilih membuka pintu lebar-lebar bagi korporasi. Melalui optimalisasi dana Corporate Social Responsibility(CSR) perusahaan-perusahaan pemegang konsesi tambang dan perkebunan yang bercokol di Kutim, roda pembangunan pariwisata dipompa tanpa harus sepenuhnya bergantung pada APBD yang terbatas.
Kolaborasi Lintasan Sektor dan Merawat Tradisi
Pariwisata, dalam pandangan Mahriadi, adalah ekosistem raksasa yang mustahil dikerjakan sendirian. Koordinasi lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) langsung disimpul.
Dinas Pekerjaan Umum digandeng untuk meluruskan dan memperhalus akses jalan menuju kantong-kantong wisata. Dinas Lingkungan Hidup dilibatkan untuk memastikan standardisasi kebersihan, sementara Dinas Koperasi dan UMKM diposisikan untuk mengisi lapak-lapak suvenir agar denyut ekonomi kreatif ikut berdenyut kencang.
Di tengah gempuran modernisasi dan strategi digital, tradisi tidak ditinggalkan begitu saja. Festival Lom Plai suku Dayak Wehea serta perhelatan budaya di Pantai Sekerat tetap dipertahankan, bahkan ditingkatkan kualitas kurasinya agar memiliki daya tarik magis yang memikat wisatawan mancanegara.
“Harapan saya, dalam 100 hari kerja ke depan, pariwisata Kutai Timur bisa lebih dikenal luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ucap Mahriadi.
Sebuah ambisi besar yang kini tengah diuji di atas tanah Sangatta—menunggu apakah janji-janji perbaikan ini benar-benar menjelma menjadi kenyataan, atau sekadar angin lalu di beranda pesisir Kalimantan.(adv)













