Sangatta – Pembinaan atlet usia dini dan penguatan kelembagaan menjadi fokus utama dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masa bakti 2026–2030 yang berlangsung di Cafe Maloy Hotel Royal Victoria, Sangatta.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim, Basuki Isnawan, menegaskan bahwa capaian prestasi olahraga tidak dapat dipisahkan dari proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten dan terarah. Menurutnya, fondasi organisasi yang solid harus dibangun di atas rasa kebersamaan agar mampu mencetak atlet daerah secara berkesinambungan.
“Prestasi adalah bonus. Yang paling penting adalah semangat kebersamaan, semangat memiliki, dan mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun organisasi,” ujar Basuki saat membuka forum tersebut.
Ia menambahkan, tolok ukur keberhasilan cabang olahraga tidak hanya dilihat dari raihan medali, melainkan dari keberlanjutan sistem pembinaan yang berjalan. Oleh karena itu, ia mendorong PELTI Kutim untuk mengikis ketergantungan terhadap atlet dari luar daerah.
Dorong Lahirnya Atlet Lokal melalui Akademi dan Sekolah
Basuki menekankan pentingnya peran organisasi dalam melahirkan atlet asli Kutai Timur yang memiliki daya saing tinggi, tanpa harus mengandalkan skema peminjaman pemain.
“Jangan lagi mengandalkan pemain sewaan. Fungsi organisasi olahraga adalah melakukan pembinaan sehingga mampu melahirkan atlet-atlet asli Kutim yang berprestasi,” tegasnya.
Perkembangan prestasi olahraga Kutim sendiri mencatatkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu terbukti pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA), di mana kontingen Kutim berhasil menembus posisi lima besar di tingkat Kalimantan Timur, setelah sebelumnya berada di papan bawah.
Untuk menjaga momentum tersebut, Dispora Kutim mendorong pengurus PELTI yang baru agar lebih agresif dalam memperluas jangkauan pembinaan. Langkah strategis yang disarankan meliputi:
- Mengembangkan jumlah klub dan akademi tenis lokal.
- Memperkenalkan cabang olahraga tenis secara aktif ke lingkungan sekolah.
- Memperkuat sinergi antara Dispora, pengurus cabang, dan pemangku kepentingan olahraga.
Sinergi KONI dan Pengprov PELTI Kaltim
Dukungan serupa disampaikan Ketua KONI Kutim, Rudi Hartono. Ia memberikan apresiasi kepada kepengurusan PELTI periode sebelumnya yang dinilai konsisten menjaga roda organisasi dan iklim kompetisi. Namun, ia mengingatkan agar fokus kepengurusan baru bergeser pada regenerasi atlet sejak usia muda.
“Ke depan, PELTI harus lebih fokus pada pembinaan usia dini karena prestasi tidak lahir secara instan, tetapi harus dipersiapkan sejak awal,” kata Rudi.
Sementara itu, Ketua Pengprov PELTI Kaltim, Khairul Anam, menggarisbawahi pentingnya tata kelola organisasi yang sehat, kuat, dan kolaboratif sebagai kunci utama kemajuan prestasi.
“Jika organisasi dijalankan dengan sehat, kuat, dan kolaboratif, maka prestasi akan datang sebagai bonus,” ungkap Khairul.
Muskab PELTI Kutim kali ini diikuti oleh tiga klub anggota, yakni Bara Tennis Club (BTC), Sangatta Bara Tennis Club (SBTC), dan Mabar Tennis Club (MTC).
Selain menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengurus masa bakti sebelumnya, forum ini beragenda memilih jajaran kepengurusan baru periode 2026–2030 serta merumuskan garis besar program kerja empat tahun ke depan. Melalui sinergi lintas sektor ini, PELTI Kutim diharapkan melahirkan struktur kepengurusan yang solid demi mencetak atlet-atlet tenis lokal berprestasi.(ADV/prokopim/Kutim)













