Top Banner
AdventorialKutim

Dari Syukur hingga Kemakmuran, Sembilan Tari Kayan Pukau Festival UFAH 2026

324
×

Dari Syukur hingga Kemakmuran, Sembilan Tari Kayan Pukau Festival UFAH 2026

Sebarkan artikel ini

KOMBENG – Sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan tampil dalam Festival Budaya UFAH 2026 di Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Minggu (9/8/2026). Pertunjukan tersebut membawa penonton menelusuri rangkaian nilai kehidupan masyarakat Dayak Kayan melalui gerak, musik, busana dan simbol budaya.

Kesembilan tarian tersebut masing-masing memiliki latar dan makna yang berbeda. Namun, seluruhnya saling terhubung dan membentuk gambaran mengenai kehidupan masyarakat Kayan, mulai dari ungkapan syukur hingga harapan akan kehidupan yang makmur.

Pertunjukan dibuka dengan Hudog Aruq atau Bateang Bu-eang. Tarian tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada roh leluhur atas berkat yang diterima masyarakat selama satu musim.

Hifan Sau kemudian menggambarkan kegembiraan kaum pria atas kemenangan di medan perang. Makna tersebut dalam kehidupan masa kini dapat dipahami sebagai keberhasilan dalam menghadapi persoalan. Hifan Seang yang dibawakan kaum wanita menjadi pasangan dari tarian tersebut dan menggambarkan kegembiraan serta kebersamaan.

Jat Alat membawa cerita mengenai kehidupan setelah masa panen. Tarian ini berkaitan dengan pesta syukuran Ka-uh Tupuh Duman Lebau yang menjadi penanda berakhirnya masa berkabung atau lumuh.

Nilai pertanian kembali terlihat melalui Hudog Kitaq. Tarian tersebut merepresentasikan kehadiran dewi padi yang dipercaya membantu menyuburkan tanaman. Sementara Hudog Kuhau berkaitan dengan masa pertumbuhan dan perawatan padi serta harapan agar tanaman terbebas dari hama dan penyakit.

Berbeda dengan tarian lainnya, Hudog Kap atau Kusap Nga-eang memiliki makna berkabung. Tarian ini menggunakan topeng dari kulit kayu trap dan minimal dibawakan 10 penari wanita. Pertunjukannya dapat dilakukan ketika seorang pahlawan gugur atau ada warga yang meninggal dunia.

Tingeang Urip atau Enggang kemudian membawa pesan mengenai kebesaran, kemuliaan, perdamaian dan persatuan. Simbol tersebut memperkuat pesan bahwa tradisi budaya juga memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat saat ini.

Sebagai penutup, Manuk Inuq menggambarkan kehidupan yang makmur dan berlimpahan.

Kesembilan tarian tersebut tidak sekadar menjadi hiburan. Setiap gerakan membawa pengetahuan mengenai hubungan manusia dengan alam, leluhur, pertanian dan kehidupan sosial.

Festival Budaya UFAH 2026 menjadi salah satu ruang untuk menjaga pengetahuan tersebut tetap hidup di tengah perkembangan zaman.(ADV/prokopim/Kutim)

Total Views: 314

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *