Top Banner
AdventorialKutim

UFAH 2026 Jadi Ruang Pewarisan Budaya, Lima Anak Ikuti Prosesi Adat Dayak Kayan

351
×

UFAH 2026 Jadi Ruang Pewarisan Budaya, Lima Anak Ikuti Prosesi Adat Dayak Kayan

Sebarkan artikel ini

KOMBENG — Festival UFAH 2026 di Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kutai Timur (Kutim), menjadi ruang bagi masyarakat Dayak Kayan untuk meneruskan tradisi kepada generasi berikutnya. Salah satunya melalui prosesi adat Ufah yang melibatkan lima anak laki-laki.

Lima anak tersebut telah dipersiapkan untuk mengikuti ritual adat yang menjadi salah satu rangkaian utama Festival UFAH. Keterlibatan mereka memiliki makna tersendiri dalam tradisi masyarakat Kayan.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengaku baru memahami makna keterlibatan anak-anak dalam prosesi tersebut. Ia mengatakan sebelumnya telah beberapa kali melihat anak-anak kecil hadir dalam rangkaian UFAH.

“Saya baru hari ini paham yang disampaikan oleh Ketua Adat Kayan Kaltim Kaltara, ternyata UFAH itu mempersiapkan calon pemimpin,” ujar Ardiansyah beberapa waktu lalu.

Sebelum prosesi dimulai, Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah juga menyempatkan diri menyapa lima anak yang akan mengikuti ritual. Ia memberikan pesan singkat kepada mereka.

“Sehat-sehat dan semoga menjadi calon pemimpin yang baik ya,” kata Robiah.

Ketua Umum Persekutuan Dayak Kayan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Tan Irang mengatakan pelestarian adat perlu terus dilakukan agar warisan leluhur tidak hilang. Menurutnya, budaya menjadi bagian dari identitas masyarakat Kayan yang harus dijaga di tengah perkembangan zaman.

“Jaga, pelihara, lestarikan adat istiadat, seni, dan budaya yang diwariskan nenek moyang atau leluhur kita,” ujarnya.

Tan Irang juga mengingatkan pentingnya persatuan dalam kehidupan masyarakat. Ia mengajak masyarakat Kayan menjaga persaudaraan dan hidup harmonis bersama berbagai etnis yang ada di Kutim.

“Marilah kita perkuat persatuan, persaudaraan, dan rasa kekeluargaan di tengah masyarakat di mana pun kita berada,” katanya.

Selain prosesi Ufah, Festival UFAH 2026 menampilkan sembilan tarian khas Dayak Kayan Umaq Lekan. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kesenian lokal kepada masyarakat.

Ardiansyah menilai kegiatan budaya seperti UFAH perlu terus dipertahankan. Menurutnya, adat dan budaya tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari modal sosial dalam pembangunan daerah.

“Adat dan budaya itu adalah bagian terpenting dalam membangun Kutai Timur,” tegasnya.

Dengan adanya prosesi adat, pertunjukan seni, dan keterlibatan generasi muda, Festival UFAH menjadi ruang untuk menjaga kesinambungan tradisi. Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya Dayak Kayan kepada masyarakat yang lebih luas.(ADV/prokopim/Kutim)

Total Views: 340

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *