SANGKULIRANG – Sebanyak 15 desa di Kecamatan Sangkulirang menjadi sasaran layanan jemput bola Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam penanganan keluarga berisiko stunting (KRS). Berdasarkan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA), terdapat 1.073 KRS di wilayah tersebut.
Program tersebut dijalankan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim melalui kegiatan yang berlangsung di BPU Kantor Camat Sangkulirang, Selasa (11/8/2026).
Dari sejumlah desa yang tercatat, Benua Baru memiliki jumlah KRS tertinggi dengan 237 KK. Disusul Benua Baru Ulu sebanyak 167 KK, Perupuk 106 KK, dan Maloy 93 KK.
Plh Kepala DPPKB Kutim, Yuriansyah, mengatakan pemerintah perlu turun langsung ke wilayah sasaran karena penanganan stunting membutuhkan kerja bersama dan waktu.
“Stunting atau keluarga risiko stunting tidak bisa kita selesaikan kalau tidak bersama-sama. Harus ada kolaborasi karena tidak semudah yang kita bayangkan harus menghilangkan itu,” ujarnya.
Menurut Yuriansyah, keterlibatan lintas sektor menjadi penting karena faktor yang memengaruhi risiko stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan makanan. Kondisi tempat tinggal dan akses terhadap fasilitas dasar juga perlu diperhatikan.
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) turut hadir dalam kegiatan tersebut. DPPKB berharap dukungan Perkim melalui program jamban sehat dan Rumah Layak Huni (RLH) dapat menjangkau keluarga di Sangkulirang.
“Harapan kita, program dari Perkim seperti bantuan jamban sehat dan Rumah Layak Huni bisa menjangkau masyarakat Sangkulirang,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Camat Sangkulirang, Suwandi, mengatakan persoalan stunting telah menjadi perhatian pemerintah desa selama beberapa tahun terakhir. Penanganannya juga telah masuk dalam program desa melalui mandatory spending.
“Mudah-mudahan dengan kehadiran beliau bersama tim bisa mendorong bagaimana mengatasi dan mengurangi munculnya stunting yang ada di wilayah Sangkulirang,” katanya.
Kegiatan tersebut juga diisi materi layanan penanganan KRS oleh JFT DPPKB Kutim Agustina serta pemaparan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Anak Stunting (Genting) oleh Ani Saida.
Selain itu, bantuan makanan tambahan dari Baznas Kutim diserahkan secara simbolis kepada sejumlah keluarga berisiko stunting. Bantuan lainnya akan diteruskan petugas PLKB kepada sasaran.
DPPKB berharap layanan jemput bola dapat memperkuat pendampingan keluarga sekaligus memperluas kolaborasi dalam penanganan stunting di Sangkulirang.(ADV/prokopim/Kutim)













