PENAJAM – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) terus berupaya meruntuhkan tembok diskriminasi dalam dunia pendidikan daerah. Guna menggaransi hak belajar yang setara bagi seluruh anak, mendorong sekolah-sekolah umum di berbagai pelosok kecamatan untuk membuka pintu dan menerima Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) melalui sistem pendidikan inklusi.
Kebijakan ini diambil sebagai solusi konkret atas terbatasnya jumlah sekolah khusus (SLB) yang ada di PPU, di mana keberadaannya saat ini masih terpusat di kawasan perkotaan. Keterbatasan lokasi tersebut sering kali menjadi beban berat bagi para orang tua dan siswa berkebutuhan khusus yang tinggal di wilayah pedalaman atau wilayah pesisir yang jauh.
Sekretaris Disdikpora PPU, Durajat, menjelaskan jarak geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi seorang anak untuk mendapatkan hak dasarnya di bidang pendidikan. Anak-anak yang bermukim di daerah luar perkotaan, seperti Kecamatan Babulu hingga Muara Jawa, harus mendapatkan perhatian serta fasilitas belajar yang setara dengan siswa lainnya.
“Kalau tidak kita terima di sekolah umum, kasihan anak-anak kita. Sekolah khusus kan jumlahnya terbatas di Penajam, sementara wilayah kita luas. Bagaimana dengan anak-anak yang ada di Babulu atau Muara Jawa, itulah sebabnya sekolah umum harus mau memberikan layanan pendidikan inklusi,” ucapnya, Rabu (14/10/2026).
Guna memuluskan penerapan program inklusi ini, Disdikpora PPU menggenjot kesiapan para tenaga pendidik melalui serangkaian pelatihan yang berkesinambungan. Pelatihan ini memfokuskan pada pemahaman konsep inklusif, penentuan kebijakan kelas, hingga keterampilan mengidentifikasi kriteria PDBK.
“Disdikpora tidak membedakan anak normal dan anak berkebutuhan khusus, semuanya harus mendapatkan layanan pendidikan yang sama,” tegas Durajat.
Dirinya mengingatkan para guru agar tidak menyempitkan makna anak berkebutuhan khusus hanya pada kasus keterlambatan belajar atau wicara, tetapi juga melingkupi kondisi psikologis lain seperti anak hiperaktif. Di samping penguatan kapasitas guru, Disdikpora PPU kini tengah merapikan basis data PDBK secara presisi dari jenjang TK, SD, hingga SMP.
“Integrasi data ini bertujuan agar riwayat perkembangan siswa dapat terus terpantau secara berkelanjutan saat menempuh jenjang sekolah yang lebih tinggi, menciptakan iklim belajar yang ramah dan aman,” tutupnya. (Adv)













