Top Banner
AdventorialKutim

Ardiansyah Sampaikan Adat dan Budaya Jadi Perekat Masyarakat Kutim yang Multietnis

319
×

Ardiansyah Sampaikan Adat dan Budaya Jadi Perekat Masyarakat Kutim yang Multietnis

Sebarkan artikel ini

KOMBENG — Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menilai adat dan budaya memiliki peran penting dalam menjaga kebersamaan masyarakat di daerah yang terdiri dari berbagai suku. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Festival UFAH 2026 di Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, baru-baru ini.

Dalam festival tersebut, permainan tradisional menyumpit menjadi salah satu kegiatan yang digelar masyarakat Dayak Kayan. Ardiansyah bersama Wakil Bupati Kutim Mahyunadi dan perwakilan Forkopimda turut mencoba permainan tersebut.

Menyumpit menjadi bagian dari rangkaian Festival UFAH yang menggabungkan prosesi adat, permainan tradisional, dan pertunjukan kesenian. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali permainan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ardiansyah mengatakan kebudayaan memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar tradisi. Menurutnya, adat dan budaya dapat menjadi bagian dari kekuatan pembangunan Kutim.

“Adat dan budaya itu adalah bagian terpenting daripada modal dalam membangun Kutai Timur,” ujar Ardiansyah.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga keberagaman budaya karena Kutim dihuni masyarakat dari berbagai suku.

“Adat dan budaya ini menjadi perekat kita, karena Kutai Timur ini multi etnis,” katanya.

Menurut Ardiansyah, kegiatan seperti Festival UFAH memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi sekali(gus memperkenalkannya kepada generasi muda. Dengan cara tersebut, nilai budaya tidak hanya tersimpan sebagai warisan, tetapi tetap dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat.

Wakil Bupati Mahyunadi turut hadir dalam kegiatan dan menyaksikan berbagai rangkaian Festival UFAH. Keterlibatan kedua kepala daerah tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap keberlangsungan adat dan budaya lokal.

Festival UFAH 2026 juga dimeriahkan sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan. Pertunjukan tersebut menambah rangkaian kegiatan budaya sekaligus memperlihatkan keberagaman kesenian masyarakat Dayak Kayan.

Lomba menyumpit dan pertunjukan tari tersebut menunjukkan bahwa Festival UFAH tidak hanya menjadi agenda hiburan. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempertahankan permainan, kesenian, dan nilai budaya agar tetap dikenal masyarakat.

Dengan terus menghadirkan tradisi dalam kegiatan bersama, Festival UFAH menjadi salah satu ruang bagi masyarakat Dayak Kayan untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat hubungan sosial di tengah keberagaman Kutim.(ADV/prokopim/Kutim)

Total Views: 309

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *