PENAJAM – Perhelatan akbar Festival Belian Adat Paser Nondoi yang segera digelar pada November mendatang dipastikan tidak sekadar menjadi ajang pelestarian budaya tahunan. Lebih dari itu, momentum sakral ini akan menorehkan sejarah baru bagi kepemimpinan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Bupati PPU, Mudyat Noor, dijadwalkan menerima penganugerahan gelar kehormatan adat Paser yang sarat akan makna filosofis dan historis. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten PPU mengungkapkan prosesi agung ini direncanakan menjadi magnet utama pada upacara pembukaan festival.
Penganugerahan ini bukan sekadar seremonial biasa, melainkan wujud penghormatan luhur masyarakat adat Paser kepada pemimpin tertinggi di Benuo Taka yang berkomitmen menjaga warisan leluhur.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten PPU, Aji Luqman Panji, mengatakan tradisi pemberian gelar kehormatan ini merupakan warisan turun-temurun yang diperuntukkan khusus bagi pimpinan pemerintahan. Kendati demikian, detail penyebutan dan format acara masih terus dimatangkan melalui koordinasi intensif bersama pengurus Lembaga Adat Paser (LAP).
“Gelar kehormatan ini memang diperuntukkan bagi pejabat negara, pimpinan pemerintah, atau penguasa daerah. Penyerahannya direncanakan secara langsung di lokasi prosesi adat pada saat pembukaan festival,” ujar Aji, Kamis (8/10/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Aji Luqman juga meluruskan detail penting mengenai penamaan gelar agar tidak terjadi kekeliruan di tengah masyarakat. Gelar yang tengah dipersiapkan bagi Bupati Mudyat Noor adalah Kakak Demong Agung Nata Negara.
Ia menegaskan bahwa frasa Nata Negara secara khusus dialokasikan bagi pimpinan tertinggi di struktur pemerintahan, sementara sebutan Nata Diningrat umumnya diperuntukkan bagi figur yang memiliki garis keturunan bangsawan bergelar Aji. “Koordinasi mendalam dengan Lembaga Adat Paser menjadi kunci utama dalam merumuskan urutan tingkatan gelar ini,” sebutnya.
Upaya cermat tersebut diperlukan untuk menjaga validitas historis serta menghindari tumpang tindih penomoran dengan para pemimpin PPU terdahulu yang pernah menerima penghormatan serupa.
Berdasarkan catatan historis Disbudpar PPU, gelar kehormatan Kakak Demong Agung Nata Negara tergolong sangat eksklusif. Penganugerahan ini tercatat baru diberikan kepada dua kepala daerah sebelumnya; pertama kali disematkan kepada mantan Bupati Yusran Aspar pada tahun 2007, disusul oleh Abdul Gafur Mas’ud (AGM) pada ritual adat Nondoi tahun 2018. Dengan demikian, Mudyat Noor akan menjadi tokoh ketiga dalam sejarah PPU yang menerima kehormatan tertinggi dari masyarakat adat Paser.
Melalui sinergi yang erat antara pemerintah daerah dan Lembaga Adat Paser, rangkaian Festival Nondoi tahun ini diharapkan tidak hanya sukses secara pariwisata, tetapi juga memperkuat akar budaya lokal, merawat marwah adat istiadat, serta menjadi sumber kebanggaan kolektif bagi seluruh warga PPU. (Adv)












