PENAJAM – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, mulai memberikan dampak buruk terhadap kualitas kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU membenarkan adanya tren kenaikan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan kabut asap.
Kendati fenomena lonjakan pasien gangguan pernapasan sudah terlihat di fasilitas kesehatan, Dinkes PPU mengaku masih mengumpulkan rekapan data riil dari lapangan untuk menentukan persentase kenaikan kasus secara pasti.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinkes PPU, Lukasiwan Eddy Saputro, membenarkan situasi peningkatan penyakit saluran pernapasan tersebut saat dikonfirmasi terkait dampak buruk karhutla terhadap warga.
“Ya, meningkat ISPA,” ujar Lukasiwan singkat,” katanya, Jumat (23/10/2026).
Tak hanya masalah pernapasan, paparan partikel debu dan asap hasil pembakaran lahan juga memicu penyakit sekunder lainnya. Beberapa puskesmas melaporkan adanya peningkatan warga yang mengeluhkan iritasi mata serta gangguan pencernaan.
“Kalau data ISPA, diare, maupun yang sakit mata itu ada semua. Kalau diminta sekarang, saya tidak hafal angkanya,” ungkap Lukasiwan menjelaskan alasan belum dibukanya data perincian ke publik.
Ia menambahkan bahwa seluruh data pencatatan medis sedang dihimpun dari setiap puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) di wilayah PPU. Proses rekapitulasi ini penting untuk memetakan sebaran wilayah yang paling parah terdampak paparan kabut asap karhutla.
“Data penyakit tersebut sebenarnya tersedia di sistem, tetapi perlu diperiksa dan dicocokkan kembali untuk memastikan jumlah pasti serta periode pencatatannya agar tidak simpang siur,” jelasnya lebih lanjut.
Langkah pengumpulan data ini nantinya akan menjadi dasar bagi Dinkes PPU dalam mengambil tindakan intervensi medis darurat, seperti pembagian masker medis secara masif atau pembentukan posko kesehatan di area rawan karhutla.
Sementara itu, pihak Dinkes mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mandiri, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan penderita riwayat asma. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap menebal serta konsisten menggunakan masker standar pencegahan udara buruk.
Dinkes PPU berjanji akan mempublikasikan perkembangan data penyakit akibat karhutla ini secara transparan begitu seluruh rekapitulasi faskes rampung diverifikasi. (Adv)













