PENAJAM – Kinerja investasi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada tahun 2026 ini tengah berada diuji tantangan yang tidak mudah. Hingga Triwulan III, realisasi penanaman modal di daerah yang dikenal sebagai Gerbang Nusantara ini baru mencatatkan angka sekitar Rp700 miliar. Capaian tersebut masih terpaut sangat jauh dari target ambisius yang dipatok sebesar Rp3,3 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten PPU, Amrullah, mengatakan perlambatan ritme pembangunan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi pemicu utama di balik lesunya angka realisasi tahun ini.
“Penyesuaian tempo proyek di IKN berdampak langsung pada aliran investasi yang masuk ke sistem OSS (Online Single Submission),” katanya, Rabu (14/10/2026).
Kendati begitu, di tengah tantangan yang ada, sektor kesehatan justru muncul sebagai penyelamat utama yang menopang angka Rp700 miliar tersebut. Pembangunan fasilitas kesehatan berskala besar seperti RS Hermina Nusantara, Mayapada Hospital Nusantara, hingga RS Abdi Waluyo terbukti menjadi motor penggerak investasi swasta yang konsisten masuk ke PPU sepanjang tahun ini.
Dinamika ini tentu menghadirkan kontras yang cukup tajam jika dibandingkan dengan euforia investasi pada tahun 2024 lalu. Ketika itu, masifnya pembangunan fisik infrastruktur IKN berhasil mendongkrak realisasi investasi PPU hingga menembus angka Rp3,7 triliun. “Jauh melampaui target awal yang dipatok sebesar Rp2,5 triliun,” sebutnya.
Kesenjangan antara target dan realisasi ini sejatinya sudah diantisipasi sejak awal oleh pemerintah daerah. Menurut Amrullah, pihak DPMPTSP PPU sebenarnya telah mengusulkan angka target yang lebih realistis dan sesuai dengan potensi riil daerah di kisaran Rp1,6 triliun. Namun, keputusan akhir dari pusat melalui BKPM tetap membebankan target di angka Rp3,3 triliun.
“Waktu rapat pembagian target sudah kami sampaikan bahwa untuk saat ini cukup berat mengejar angka tersebut. Tapi karena ini kewenangan BKPM melalui provinsi, kami di daerah menerima saja,” ungkap Amrullah.
Menyikapi sisa waktu yang kian menipis menjelang akhir tahun, DPMPTSP PPU tidak tinggal diam. Pemerintah daerah kini memilih untuk mengencangkan strategi jemput bola melalui pengawalan dan pemantauan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) bagi para pelaku usaha.
Nantinya diharapkan mampu memastikan setiap aktivitas penanaman modal yang telah berjalan di lapangan dapat terdata dan terlaporkan secara akurat ke dalam sistem. Selain itu, optimalisasi LKPM juga diyakini dapat membantu menjaring potensi-potensi investasi baru agar segera terealisasi sebelum tahun anggaran 2026 ditutup. (Adv)












