PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (KUKM Perindag) tengah merancang terobosan strategis untuk mengoptimalkan penyerapan produk kerajinan daerah. Langkah nyata ini diwujudkan melalui rencana sinkronisasi program bantuan sosial pendidikan, Kartu Penajam Cerdas (KPC), dengan pemberdayaan UMKM lokal.
Kebijakan ini dirancang agar dana bantuan KPC senilai Rp600 ribu yang diterima oleh para siswa baru tidak lagi dibelanjakan ke luar daerah, melainkan dialirkan langsung untuk membeli produk sepatu buatan perajin lokal. Dengan begitu, bantuan pendidikan tidak hanya meringankan beban orang tua murid, tetapi juga berfungsi ganda sebagai penggerak roda ekonomi kerakyatan di tingkat akar rumput.
Sekretaris Dinas KUKM Perindag Kabupaten PPU, Syamsul Adha, menjelaskan gagasan tersebut bermula dari instruksi bupati terkait kewajiban memaksimalkan pemanfaatan produk buatan daerah. Pihaknya kemudian bergerak cepat dengan menggandeng Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) guna merumuskan skema kolaborasi yang matang dan tepat sasaran.
“Kita ingin mensinkronkan kegiatan Kartu Penajam Cerdas dengan pemanfaatan produk lokal. Peruntukan KPC salah satunya untuk membeli kelengkapan seragam siswa baru seperti sepatu, tas, dan baju. Dalam konteks ini, kita bekerja sama agar nantinya siswa baru diarahkan mengambil produk sepatu lokal,” ujar Syamsul, Rabu (28/10/2026).
Menariknya, para perajin yang dilibatkan bukanlah pelaku usaha sembarangan. Mereka adalah warga lokal dari sejumlah sentra di Kecamatan Babulu, seperti Desa Sumbersari, Sebakung Jaya, Gunung Intan, hingga Babulu Laut. Para perajin ini merupakan binaan program penanggulangan kemiskinan yang telah sukses menuntaskan serangkaian pelatihan pembuatan sepatu intensif selama beberapa tahun terakhir.
Saat ini, Dinas KUKM Perindag tengah fokus merampungkan payung hukum berupa regulasi resmi, serta mematangkan desain, model, dan merek dagang sepatu yang akan dilepas ke pasaran. Potensi pasar dari program ini tergolong sangat masif dan menjanjikan kepastian omzet bagi perajin. Berdasarkan data, terdapat sekitar 5.885 siswa penerima manfaat KPC yang diproyeksikan menjadi pasar utama pada tahun ajaran baru mendatang.
“Tahap awal produk lokalnya fokus di sepatu dulu. Nanti desain dan mereknya akan kami ajukan untuk disetujui. KPC sekarang ini sudah berjalan, jadi targetnya tahun ajaran baru 2027 nanti,” tambah Syamsul.
Melalui integrasi lintas sektor ini, Pemkab PPU optimistis kualitas produk sepatu buatan warga Babulu akan terus terdongkrak naik secara kualitas maupun daya saingnya. Di sisi lain, kehadiran pasar yang pasti ini diharapkan mampu menciptakan multiplier effect berupa peningkatan pendapatan dan kesejahteraan bagi keluarga perajin lokal di PPU.
“Bersama-sama kita bikin regulasinya dulu supaya membeli produk lokal (sepatu) untuk KPC, jadi enggak beli di luar,” pungkas Syamsul. (Adv)













