Top Banner
Adventorial KutimKutim

Kutai Timur Perkuat Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan melalui SUSTAIN Kutim Fase II

11
×

Kutai Timur Perkuat Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan melalui SUSTAIN Kutim Fase II

Sebarkan artikel ini

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH dan Proforest melanjutkan komitmen pembangunan berkelanjutan melalui Program Sustainable Landscape Initiative in Kutai Timur (SUSTAIN Kutim) Fase II. Program untuk periode 2026–2030 ini diarahkan untuk memperkuat pengelolaan lanskap, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendorong pengembangan perkebunan yang lebih bertanggung jawab.

Pelaksanaan program ditandai dengan rangkaian kegiatan pada 27–29 Oktober 2026 di Hotel Royal Victoria Sangatta, Kutai Timur. Agenda tersebut meliputi Lokakarya Perencanaan Bersama SUSTAIN Kutim Fase II, serah terima sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Grand Final Lomba Kompetisi Inovasi Pembangunan Berkelanjutan FORMIKA, serta peresmian atau kick-off program fase kedua.

Lokakarya perencanaan bersama diikuti sekitar 70 peserta yang mewakili organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, DPRD Kabupaten Kutai Timur, pelaku usaha perkebunan, mitra pembangunan, dan organisasi pelaksana. Para peserta merefleksikan hasil dan pembelajaran dari Fase I, menyusun hasil bersama berikut indikator capaian, serta memperjelas pembagian peran dan tanggung jawab untuk pelaksanaan Fase II.

Forum tersebut menjadi ruang untuk memastikan bahwa rencana kegiatan sesuai dengan prioritas pembangunan kabupaten, melanjutkan inisiatif yang telah berjalan, menghindari tumpang tindih program, dan memperkuat kepemilikan lokal. Dengan proses perencanaan bersama, para pihak diharapkan mempunyai pemahaman yang sama mengenai hasil yang ingin dicapai serta kontribusi masing-masing dalam pelaksanaan program.

SUSTAIN Kutim Fase I berlangsung pada 2023–2026. Pada fase tersebut, program mendukung pekebun swadaya memperoleh kepastian penggunaan lahan dan meningkatkan kapasitas dalam menerapkan praktik pengelolaan kebun berkelanjutan. Program juga mendorong penguatan organisasi pekebun agar dapat membangun kemitraan rantai pasok dengan perusahaan perkebunan. Selain itu, perlindungan areal bernilai konservasi tinggi di tingkat desa dan kabupaten turut menjadi bagian dari upaya yang dijalankan.

Salah satu capaian penting Fase I adalah sertifikasi ISPO dan RSPO bagi sembilan koperasi pekebun swadaya di Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Rantau Pulung. Kesembilan koperasi tersebut menaungi lebih dari 1.200 pekebun. Sertifikat diserahkan dalam rangkaian peluncuran Fase II sebagai bentuk pengakuan atas upaya petani dalam memenuhi standar keberlanjutan. Sertifikasi tersebut juga menjadi elemen penting untuk membangun kepercayaan terkait aspek lingkungan, sosial, dan operasional dalam rantai pasok minyak sawit global.

Program Fase II akan melanjutkan dan memperluas capaian tersebut. Agenda kerjanya meliputi penguatan kelembagaan dan tata kelola kabupaten, perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati, peningkatan produksi pertanian berkelanjutan, peningkatan penghidupan dan pendapatan alternatif masyarakat, penguatan keberlanjutan finansial inisiatif berbasis lanskap melalui investasi swasta, serta penyelarasan pengelolaan keuangan publik dengan prinsip pengelolaan lanskap berkelanjutan.

Dalam aspek kelembagaan, FORMIKA akan diperkuat sebagai platform multipihak untuk mendorong pengambilan keputusan yang terkoordinasi, penanganan konflik perkebunan, harmonisasi kebijakan daerah, serta integrasi perencanaan perkebunan berkelanjutan ke dalam rencana pembangunan sektoral dan daerah. Pengembangan sistem pemantauan juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pemanfaatan lahan.

Di bidang lingkungan, program akan mendukung perlindungan dan pemulihan bentang alam yang memiliki nilai penting secara ekologis. Kegiatan dapat mencakup penilaian Nilai Konservasi Tinggi atau High Conservation Value (HCV) dan inisiatif konservasi untuk mempertahankan fungsi serta jasa ekosistem. Sementara itu, penguatan produksi akan dilakukan melalui peningkatan kapasitas pekebun swadaya dan pekerja perkebunan dalam menerapkan praktik pertanian regeneratif serta Good Agricultural Practices (GAP).

Program juga mendorong rantai pasok yang memiliki sistem ketertelusuran dan bebas deforestasi, sekaligus memperluas pilihan penghidupan masyarakat melalui perbaikan praktik pertanian, diversifikasi pendapatan, dan pengembangan kelembagaan koperasi. Dukungan investasi sektor swasta dan penyelarasan perencanaan serta penganggaran pemerintah daerah diharapkan membantu memastikan keberlanjutan inisiatif dalam jangka panjang.

Bupati Kutai Timur, Drs. H. Ardiansyah Sulaiman, M.Si., secara resmi membuka SUSTAIN Kutim Fase II pada 29 Oktober 2026. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam dan pembangunan infrastruktur. Pengembangan kelapa sawit dan karet perlu memberikan manfaat yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat perekonomian masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan.

“Kita tidak ingin potensi kelapa sawit dan karet hanya berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi harus mampu membuka peluang usaha, memperkuat peran koperasi, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Kutai Timur,” ujar Bupati.

Ia juga menilai sertifikasi ISPO dan RSPO sebagai bagian dari upaya mendorong praktik perkebunan yang bertanggung jawab dan meningkatkan daya saing produk. Namun, penerapan standar tersebut perlu dijaga secara konsisten melalui pendampingan, penguatan kelembagaan koperasi, peningkatan kapasitas petani, dan akses terhadap peluang pasar yang lebih baik.

“Petani swadaya tidak hanya dituntut memenuhi standar keberlanjutan, tetapi juga harus memperoleh dukungan agar mampu menjalankannya secara konsisten dan tetap mendapatkan manfaat ekonomi yang layak,” tutupnya.

Bupati berharap Fase II memiliki arah kerja yang jelas, pembagian peran yang terukur, serta evaluasi berkala. Hasil program perlu dilihat dari kemajuan nyata, termasuk peningkatan kapasitas dan produktivitas petani, akses pasar, kesejahteraan pekebun, dan terjaganya kualitas lingkungan. Ia mengajak pemerintah daerah, dunia usaha, koperasi, akademisi, serta masyarakat untuk bekerja sama agar manfaat program dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama pekebun swadaya.

Bupati juga menyambut baik Lomba Inovasi Pembangunan Berkelanjutan yang digagas FORMIKA untuk pelajar dan mahasiswa. Ia berharap gagasan yang muncul dari kompetisi dapat dikembangkan menjadi solusi yang bisa diterapkan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat Kutai Timur.

Ketua Harian FORMIKA Kutai Timur, Sudirman Latif, melaporkan bahwa pada 27 Oktober 2026 para pihak telah membahas dan menyepakati Kerangka Kerja Sama berupa Hasil-hasil Bersama beserta Indikator Kuncinya sebagai dasar pelaksanaan Fase II. Ia juga memohon agar Bupati menyerahkan sertifikat ISPO dan RSPO secara langsung kepada perwakilan sembilan koperasi pekebun swadaya, yang terdiri atas empat koperasi di Rantau Pulung dan lima koperasi di Bengalon. Penyerahan tersebut menjadi bentuk apresiasi dan dukungan kepada petani sawit serta penyuluh swadaya yang mendampingi mereka.

Sudirman turut menyampaikan bahwa lomba inovasi bertujuan menghimpun ide dan konsep pembangunan berkelanjutan yang dapat diterapkan di Kutai Timur, sekaligus memperluas keterlibatan para pihak, terutama generasi muda dan pelajar.

SUSTAIN Kutim diluncurkan pada 2023 untuk mendukung komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dalam mewujudkan produksi pertanian berkelanjutan, khususnya pada komoditas kelapa sawit dan karet alam. Inisiatif ini memperkuat kapasitas pemerintah kabupaten, masyarakat, pekebun swadaya, pekerja, dan perusahaan perkebunan agar dapat bekerja bersama dalam transformasi menuju wilayah produksi perkebunan yang berkelanjutan.

Fase II mendukung kerangka kebijakan dan agenda keberlanjutan di tingkat kabupaten, nasional, serta internasional. Tujuan besarnya adalah mewujudkan Kutai Timur yang lebih berkelanjutan, produktif, dan kompetitif melalui pengurangan deforestasi serta peningkatan mata pencaharian masyarakat lokal.

Program ini dijalankan GIZ dan Proforest sebagai bagian dari proyek global Transforming Agricultural Supply Chains (TASC) dan Sustainable Landscape Program in Indonesia. Program tersebut menerima pendanaan dari Switzerland State Secretariat for Economic Affairs (SECO), Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), PepsiCo, Nestlé, McDonald’s, dan Barry Callebaut untuk mendukung program pemerintah dan keterlibatan sektor swasta.

GIZ merupakan perusahaan federal Jerman yang bergerak di bidang kerja sama internasional untuk pembangunan berkelanjutan. Organisasi ini bekerja sama dengan sektor swasta untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di sektor pertanian dan mempertemukan kepentingan mitra publik serta swasta demi dampak jangka panjang. Sementara itu, Proforest adalah organisasi nirlaba dengan jangkauan global yang berfokus pada pengembangan dan penerapan produksi serta pengadaan komoditas pertanian dan kehutanan berkelanjutan, termasuk kedelai, gula, minyak kelapa sawit, kakao, daging sapi, dan kayu.(*)

Total Views: 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *