SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus memperkuat pengawasan harga pasar meskipun kondisi inflasi daerah masih berada dalam kondisi stabil. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan data harga yang menjadi dasar penyusunan kebijakan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan.
Hal itu mengemuka dalam rapat pengendalian inflasi yang dipimpin Wakil Bupati Kutim Mahyunadi beberapa pekan lalu.
Menurut Mahyunadi, secara umum inflasi belum menunjukkan gejolak berarti sehingga aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan normal.
“Daya beli masyarakat pun dinilai masih terjaga,” katanya.
Meski demikian, harga telur menjadi perhatian karena masih berada di atas harga acuan nasional. Di pasar lokal, harga telur mencapai rata-rata Rp1.927 per butir atau sekitar Rp34.700 per kilogram jika dikonversikan berdasarkan isi satu piring.
Perbedaan metode penghitungan antara pusat dan daerah disebut menjadi salah satu penyebab munculnya selisih angka tersebut.
Mahyunadi juga meminta Dinas Perdagangan meningkatkan kualitas pemantauan harga setelah ditemukan adanya perbedaan data dengan kondisi riil, khususnya pada komoditas cabai merah.
“Perlu dilakukan pemantauan lebih teliti dan cross-check langsung ke lapangan agar data yang disajikan benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya,” tegasnya.
Secara nasional, inflasi berada di angka 0,41 persen secara bulanan dan 3,84 persen secara tahunan. Sementara Indeks Perkembangan Harga Kutim mencapai 0,99 persen.
Dalam kesempatan itu, Mahyunadi turut mengungkapkan rencana penerapan Work From Home (WFH) di lingkungan pemerintah daerah yang akan diatur melalui keputusan bupati.
Ia juga mendorong penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari efisiensi energi. Menurutnya, kendaraan listrik tidak hanya lebih hemat, tetapi juga memberikan kenyamanan lebih saat digunakan.
Perjalanan Sangatta–Balikpapan pulang-pergi, kata dia, hanya memerlukan biaya sekitar Rp125 ribu.
“Pemerintah daerah pun mendorong dinas-dinas untuk mulai mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari langkah menuju efisiensi energi di masa depan,” ujarnya.
Ketua DPRD Kutim Jimmi mengatakan harga cabai sempat melonjak hingga Rp180 ribu per kilogram menjelang Lebaran. Karena itu, masyarakat didorong mulai membudidayakan cabai di pekarangan rumah sebagai langkah antisipatif menghadapi kebutuhan pada hari besar keagamaan.
Selain itu, ia menilai stabilitas harga telur tidak lepas dari ketersediaan pakan ternak yang saat ini masih banyak didatangkan dari luar daerah.
“Oleh karena itu, upaya menuju kemandirian pangan, termasuk produksi pakan mandiri, dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga,” pungkasnya.(adv)













