Top Banner
AdventorialKutim

Terbatas Anggaran, Rumah Rehab Gizi Stunting Sangatta Utara Tetap Berjalan

310
×

Terbatas Anggaran, Rumah Rehab Gizi Stunting Sangatta Utara Tetap Berjalan

Sebarkan artikel ini

SANGATTA — Keterbatasan anggaran tidak menghentikan upaya Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), menjalankan program Rumah Rehab Gizi Stunting. Untuk memenuhi kebutuhan program, pemerintah kecamatan menggabungkan dukungan dari berbagai sumber, termasuk bantuan perusahaan dan anggaran kecamatan.

Kebutuhan program tersebut diperkirakan mencapai Rp1,8 miliar. Sementara dukungan dari APBD yang tersedia sekitar Rp800 juta. Kondisi itu membuat Kecamatan Sangatta Utara mencari sumber dukungan lain untuk menjaga keberlangsungan program.

KPC memberikan bantuan sekitar Rp150 juta, di luar pembangunan rumah rehabilitasi. Adapun kebutuhan operasional, termasuk penjemputan anak, didukung melalui anggaran kecamatan.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menilai pola tersebut menunjukkan adanya kreativitas pemerintah kecamatan dalam menjalankan program penanganan stunting.

“Jadi inovasi Bu Camat, agar bisa berjalan semuanya walaupun tidak dalam satu mata anggaran,” ujar Mahyunadi.

Hal itu disampaikannya usai membuka Karnaval Anak TK di halaman Kantor Camat Sangatta Utara, Selasa (18/8/2026). Mahyunadi juga membuka peluang koordinasi dengan perusahaan dan unsur lainnya untuk memperkuat dukungan program.

“Insya Allah kita akan segera maksimalkan supaya bisa lebih banyak lagi,” katanya.

Rumah Rehab Gizi Stunting sendiri merupakan pilot project yang dirancang sebagai ruang intervensi bagi anak berisiko stunting. Program tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga mencakup pemantauan tumbuh kembang, pendampingan orang tua dan dukungan psikologis.

Saat ini, satu siklus program dapat menangani sekitar 20 anak. Dengan lima siklus dalam satu tahun, kapasitasnya mencapai sekitar 100 anak. Sebelumnya, kapasitas tersebut diuji mulai dari delapan anak kemudian meningkat menjadi 18 anak.

Mahyunadi mengatakan jumlah tersebut masih dapat dikembangkan sepanjang kemampuan tenaga pendamping tetap mencukupi.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati mengatakan program tersebut mendukung target nasional penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029.

Sementara Camat Sangatta Utara Hasdiah menekankan pentingnya keterlibatan orang tua agar intervensi dapat berlanjut di rumah. “Kita ingin orang tua juga belajar,” katanya.

Dengan jumlah 542 keluarga berisiko stunting, pemerintah masih menghadapi pekerjaan panjang untuk memperluas jangkauan program di Sangatta Utara.(ADV/prokopim/Kutim)

Total Views: 301

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *