Sangatta — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang mengambil langkah konkret untuk mengurai masalah kapasitas berlebih (overcapacity) serta efisiensi penegakan hukum. Rencana pembangunan fasilitas pemasyarakatan mandiri di Kutim kini memasuki babak baru setelah melalui serangkaian kajian lokasi yang matang.
Plt Kepala Lapas Kelas IIA Bontang, Huzaifah Makmur Hidayah, menjelaskan bahwa kondisi fasilitas saat ini sudah berada di ambang batas ideal. Beban operasional kian bertambah seiring tingginya jumlah warga binaan asal Kutim yang harus menjalani masa penahanan maupun pembinaan di Bontang.
Kendala utama dari situasi eksisting ini tidak hanya bertumpu pada kepadatan hunian, tetapi juga faktor geografis. Aparat Penegak Hukum (APH) di Kutim harus menempuh jarak relatif jauh menuju Bontang untuk keperluan proses peradilan, baik bagi tahanan yang masih berstatus proses hukum maupun yang telah berkekuatan hukum tetap.
“Mengingat saat ini Lapas Kelas IIA Bontang overcapacity dan bagi APH pun khususnya di Kutim itu sangat jauh untuk mengirimkan, baik tahanan yang masih pengadilan maupun yang sudah vonis,” terang Huzaifah usai audiensi.
Menanggapi persoalan tersebut, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyatakan dukungannya penuh. Menurutnya, keberadaan fasilitas pemasyarakatan yang representatif di wilayahnya sudah menjadi kebutuhan mendesak guna memangkas jarak transportasi tahanan serta mengefektifkan rantai birokrasi peradilan.
“Kita memang membutuhkan Lapas baru agar jumlah warga binaan asal Kutim bisa lebih dekat dan efektif,” ujar Ardiansyah.
Sebagai tindak lanjut, titik terang terkait lokasi pembangunan pun telah dikerucutkan. Setelah melewati berbagai kajian mendalam dan dinamika penyesuaian geografis, lahan pembangunan kini diproyeksikan berada di kawasan strategis dekat Masjid Agung Al-Faruq Sangatta, yang masih menjadi bagian dari kompleks perkantoran Bukit Pelangi.
Selain aspek infrastruktur dan efisiensi penegakan hukum, pertemuan strategis ini turut meletakkan fondasi bagi program rehabilitasi jangka panjang. Pihak Lapas berharap kehadiran fasilitas baru di Kutim kelak mampu memaksimalkan program pembinaan kemandirian yang selaras dengan potensi lokal.
“Kami ingin, khususnya warga Kutim sendiri itu ada kegiatan-kegiatan yang cukup luar biasa, baik itu pertanian, keterampilan, dan lain sebagainya,” pungkas Huzaifah.(adv)













