PENAJAM – Anomali cuaca berupa kemarau panjang mulai memberikan pukulan telak bagi sektor pertanian di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Luas lahan persawahan yang mengalami kerusakan total atau puso kini melonjak hingga menyentuh angka 80 hektare.
Kondisi tersebut mengancam capaian produksi beras daerah di akhir tahun 2026, meskipun data produksi hingga pertengahan tahun sempat mencatatkan tren positif. Dinas Pertanian (Distan) PPU mencatat kekeringan tidak hanya merusak tanaman yang siap panen, tetapi juga mematikan tanaman padi yang baru memasuki fase pertumbuhan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, mengonfirmasi peningkatan jumlah lahan pertanian yang mengalami kegagalan panen akibat ketiadaan pasokan air.
“Yang puso itu sebelumnya 66 hektare, kemudian ada tambahan 14 hektare. Jadi, total sementara yang kami laporkan sekitar 80 hektare,” ucap Gunawan, Kamis (22/10/2026).
Gunawan menjelaskan, kekhawatiran terbesar pemerintah daerah saat ini terletak pada merosotnya luas tanaman padi yang masih aktif tumbuh. Minimnya air membuat luas lahan vegetatif turun drastis dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Luas tanaman padi kita sekarang ini sangat terbatas. Tahun lalu, pada bulan-bulan seperti sekarang, kita masih punya sekitar 1.300 hektare. Selisih inilah yang berpotensi menjadi angka kehilangan produksi kita di masa panen mendatang,” terangnya.
Penurunan luas tanaman padi ini menjadi bayang-bayang kelam di tengah catatan apik produksi padi PPU hingga Agustus 2026 yang sempat menembus angka 45.300 ton meningkat dari periode sama tahun 2025 yang berada di angka 43.000 ton.
“Sekalipun di bulan Agustus kita sudah mampu memproduksi 45.300 ton, atau unggul sekitar 2.000 ton dari tahun lalu, capaian sementara ini belum aman. Menjelang akhir tahun, tambahan produksi diprediksi tidak akan seunggul tahun lalu akibat luas tanam yang menyusut tergerus kekeringan,” kata Gunawan.
Dampak domino kekeringan ini diprediksi menekan kuota penyerapan beras daerah oleh Perum Bulog. Dari target penyerapan sebesar 16.000 ton, realisasi pasokan gabah petani pada Musim Tanam II (MT II) baru menyentuh angka sekitar 12.000 ton.
Melihat kondisi keuangan daerah yang terbatas untuk mengover seluruh kerugian petani, Distan PPU telah mengirimkan permohonan bantuan darurat ke tingkat provinsi dan pusat.
“Kemampuan fiskal kita terbatas. Karena itu, kami juga mengajukan persoalan kekeringan ini ke Dinas Pangan Provinsi Kalimantan Timur dan memberikan laporan insidentil ke Kementerian Pertanian,” jelasnya.
Gunawan berharap pemerintah pusat dan provinsi dapat mengucurkan kompensasi untuk memulihkan modal kerja para petani yang lahannya terdampak kekeringan.
“Besar harapan saya, faktor input atau modal produksi yang sudah dikeluarkan petani bisa dibantu atau digantikan melalui bantuan pemerintah. Selain itu, optimalisasi 20 unit bantuan pompa air yang ada terus kami maksimalkan di lapangan untuk menyelamatkan sisa lahan di musim tanam tiga,” pungkasnya. (Adv)













