Top Banner
AdventorialKutim

Edukasi Keluarga Dinilai Jadi Kunci Keberhasilan Menekan Stunting di Kutim

321
×

Edukasi Keluarga Dinilai Jadi Kunci Keberhasilan Menekan Stunting di Kutim

Sebarkan artikel ini

SANGATTA – Edukasi kepada keluarga terus menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam mempercepat penurunan stunting. Melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK), pemerintah berupaya memastikan setiap keluarga memperoleh pendampingan sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita.

Hal tersebut dibahas dalam diskusi bertema Peran Tim Pendamping Keluarga dalam Percepatan Penurunan Stunting yang berlangsung di Kantor DPPKB Kutim.

Pejabat Fungsional Teknik (JFT) KKB DPPKB Kutim, Sulawati, menyebut para kader menghadapi tantangan besar saat melakukan pendampingan karena tidak semua masyarakat bersedia menerima edukasi.

“Ada kalanya warga menganggap posyandu tidak penting. Di sinilah militansi kader diuji,” ungkapnya.

Ia mengatakan kader harus mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat melalui pendekatan persuasif. Bahkan, mereka juga menggandeng tenaga kesehatan agar informasi yang diberikan lebih mudah diterima oleh keluarga sasaran.

Selain melakukan kunjungan rumah, kader kini didorong menghadirkan suasana posyandu yang lebih ramah bagi anak dan orang tua melalui penyediaan area bermain serta metode penyuluhan yang lebih interaktif.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim, Ani Saidah, menegaskan bahwa stunting merupakan persoalan serius yang memengaruhi kualitas generasi mendatang.

“Ini adalah fenomena gagal tumbuh yang merusak perkembangan otak dan kecerdasan,” katanya.

Menurut Ani, penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga karena akar persoalan tidak hanya berada pada aspek kesehatan, tetapi juga pola pengasuhan.

Untuk itu, DPPKB Kutim mengoptimalkan peran TPK yang terdiri atas bidan, kader PKK, dan kader KB. Mereka bertugas mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu setelah melahirkan, hingga balita usia 59 bulan melalui pola jemput bola.

Pemerintah daerah juga terus memberikan bimbingan teknis guna meningkatkan kompetensi kader yang bekerja secara sukarela.

Ani menilai dukungan tersebut penting agar materi edukasi yang diberikan tetap berkualitas dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Keberhasilan menekan angka stunting, lanjut Sulawati, hanya dapat dicapai apabila masyarakat bersedia bekerja sama dengan para kader.

“Jangan anggap kader sebagai tamu asing. Bukalah pintu, karena setiap edukasi yang mereka bawa adalah investasi untuk masa depan anak-anak kita,” pungkasnya.(adv)

Total Views: 312

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *