KOMBENG — Empat perahu tradisional disiapkan untuk mengikuti lomba dalam Festival UFAH 2026 di Sungai Bahau, Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Perlombaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian festival yang mengusung pelestarian budaya masyarakat.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi, Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah, serta perwakilan Forkopimda turut melihat persiapan lomba beberapa hari lalu.
Camat Kombeng Petrus Ivung mengatakan, lomba perahu tersebut telah dilaksanakan sebanyak tiga kali di Sungai Bahau. Pada tahun ini, pelaksanaannya disesuaikan dengan jadwal Festival UFAH yang berakhir pada 12 Agustus 2026.
“Festival perahu tradisional ini sudah yang ketiga kalinya diadakan di Sungai Ufah,” ujar Petrus.
Empat perahu yang mengikuti perlombaan tahun ini turun pada kategori putra. Kategori putri belum dipertandingkan karena waktu pelaksanaan yang terbatas.
Menurut Petrus, warga telah diminta menyiapkan perahu untuk mengikuti perlombaan. Namun, kondisi sungai membuat proses penurunan perahu harus dilakukan dengan cara tertentu.
Perahu dari RT 1 harus dihanyutkan terlebih dahulu menuju hilir sebelum diarahkan kembali ke lokasi perlombaan. Hal tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kondisi sungai dan menghindari kayu atau material yang berpotensi mengganggu jalannya lomba.
Kondisi Sungai Bahau yang memasuki musim kemarau menjadi salah satu pertimbangan panitia. Perahu diarahkan sekitar 300 meter ke hilir sebelum menuju lokasi lomba setelah melewati bagian sungai yang dinilai berisiko.
Petrus menyebut bentuk perahu yang digunakan tetap mempertahankan karakter tradisional. Ukurannya pun berbeda-beda karena dibuat berdasarkan kebutuhan dan keinginan warga.
“Panjang perahu bervariasi karena sifatnya tradisional, sesuai dengan keinginan warga masing-masing,” jelasnya.
Perahu dari RT 3, RT 1, dan RT 7 memiliki panjang lebih dari 20 meter. Sementara kapasitas perahu paling sedikit sekitar 29 orang.
Kondisi tersebut membuat lomba tidak hanya menjadi pertandingan kecepatan. Kegiatan juga menunjukkan keterampilan masyarakat dalam membuat dan mengoperasikan perahu yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Petrus mengatakan Festival UFAH memang berfokus pada budaya sehingga perlombaan yang ditampilkan merupakan permainan dan olahraga tradisional.
“Festival UFAH lebih mengarah kepada budaya. Jadi lomba-lomba yang diadakan adalah lomba tradisional,” katanya.
Festival UFAH sendiri dipadukan dengan pesta panen dan perayaan HUT Desa Miau Baru. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di Taman Desa, dengan Lamin Aruq sebagai salah satu ruang budaya masyarakat.
Kehadiran lomba perahu menjadi bukti bahwa Festival UFAH tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang untuk mempertahankan tradisi agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(ADV/prokopim/Kutim)













