PENAJAM – Di tengah kepungan ancaman kekeringan akibat bencana hidrometeorologi, langkah konkrit dan responsif ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Melalui Dinas Pertanian (Distan) PPU yang bergandengan tangan dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda, aksi penanganan darurat langsung diterjunkan ke lapangan demi mengamankan mata pencaharian para petani hortikultura di Desa Babulu Darat, Kecamatan Babulu, Selasa (22/9/2026).
Fenomena kekeringan ekstrem sebelumnya sempat membuat saluran air sekunder di wilayah tersebut mengering total. Sumber air yang tersisa di sekitar lahan warga hanya berupa air payau berkadar garam tinggi yang sangat berbahaya jika dipaksakan untuk penyiraman. Jika dibiarkan tanpa penanganan khusus, risiko kerusakan vegetasi hingga kegagalan panen masal membayangi kawasan yang dikenal sebagai salah satu sentra hortikultura unggulan daerah tersebut.
Merespons kondisi kritis ini, armada truk tangki berkapasitas 5.000 liter dikerahkan secara intensif untuk menyuplai pasokan air bersih. Tak kurang dari sembilan unit armada tangki didistribusikan setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan irigasi harian.
Penyaluran bantuan ini fokus menyasar dua kelompok tani terdampak, yakni Kelompok Tani Setia Abadi dan Kelompok Tani Makmur Raya, yang membentang di atas lahan seluas 35 hektar. Tanaman semangka di kawasan ini rata-rata berada pada usia 21 hingga 45 hari setelah tanam (HST) fase pertumbuhan emas yang sangat bergantung pada kecukupan pasokan air.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Distan PPU, Gunawan, menegaskan bahwa kehadiran pemerintah di tengah krisis ini merupakan bentuk komitmen nyata untuk melindungi produktivitas serta menjaga stabilitas ekonomi para petani lokal.
“Potensi produksi semangka di kawasan Babulu Darat dalam kondisi normal sebenarnya mampu menembus angka 30 ton per hektar. Oleh karena itu, intervensi cepat ini sangat krusial agar gejala cekaman air tidak berlanjut menjadi penurunan hasil panen yang tajam,” ungkap Gunawan.
Sinergi kuat antara pemerintah dan kesiapan infrastruktur penampungan air milik petani terbukti menjadi kunci keberhasilan aksi tanggap darurat ini. Penyaluran air bersih yang berjalan lancar tak sekadar menekan kerugian finansial, tetapi juga berhasil menyulut kembali optimisme serta semangat para petani Babulu Darat untuk terus memajukan komoditas unggulan daerah. (adv)













