PENAJAM – Pembangunan embung di kawasan pertanian dinilai dapat menjadi salah satu solusi menghadapi keterbatasan air saat musim kemarau di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Anggota Komisi II DPRD PPU, Syarifuddin HR, mendorong pemerintah membangun embung sebagai tempat penampungan air yang dapat dimanfaatkan petani ketika curah hujan mulai berkurang.
Menurutnya, kebutuhan tersebut cukup penting mengingat sebagian lahan pertanian di PPU masih mengandalkan sistem sawah tadah hujan. Ketergantungan terhadap hujan membuat petani rentan mengalami kekurangan air saat kemarau berlangsung panjang.
Syarifuddin mengatakan pembangunan embung dapat dilakukan dengan memanfaatkan sebagian lahan pertanian dalam satu kawasan.
“Kalau ada ratusan hektare di situ ditanam, paling tidak ada satu hektare dibuatkan embung,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, embung tidak harus menjadi bagian dari sistem irigasi permanen. Fungsinya dapat difokuskan sebagai tempat menampung air hujan yang kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian ketika memasuki musim kering.
Ia juga mendorong pembangunan embung dilakukan secara bertahap berdasarkan kawasan yang memiliki kelompok tani.
“Anggap misalnya kelompok tani ada sekian, paling tidak dari sekian kelompok tani itu dibuat embung. Digali-gali saja untuk menampung air,” ujarnya.
Namun, pembangunan embung masih menghadapi persoalan ketersediaan lahan. Pemerintah perlu menentukan lokasi yang tepat sekaligus memastikan status lahan agar pembangunan dapat direalisasikan.
“Masalahnya tanah siapa. Itu yang sudah berkali-kali,” jelasnya.
Syarifuddin menilai penyediaan embung dapat menjadi langkah realistis yang dilakukan untuk membantu petani menghadapi kekeringan, sembari pemerintah terus mencari solusi sumber air yang lebih besar bagi PPU.(adv)
DPRD PPU Dorong Embung Jadi Cadangan Air Hadapi Kemarau
Total Views:
0













