PENAJAM – Penyelenggaraan event kebudayaan daerah kini bertransformasi tidak sekadar menjadi ajang pelestarian seni tradisi semata, melainkan dirancang sebagai instrumen strategis untuk memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat secara riil.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) memasang target tinggi agar gelaran Festival Belian Adat Nondoi 2026 mampu mendongkrak pendapatan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Perhelatan akbar kebudayaan Suku Paser ini telah dijadwalkan berlangsung meriah selama empat hari empat malam penuh bertempat di kawasan ikonik Rumah Adat Kuta Rekan Tatau.
Sekretaris Disbudpar PPU, Suparman, mengatakan perpaduan unik antara ritual sakral budaya dan pertunjukan seni di arena festival dipastikan menjadi daya tarik magnetis yang kuat. Hal ini diyakini mampu menyedot kunjungan masif dari wisatawan, baik yang berasal dari dalam daerah maupun luar wilayah PPU.
“Pertama, perkembangan seni. Setelah itu, ada daya tarik UMKM. Bagaimana UMKM sekitar situ nanti terlibat, otomatis diharapkan penghasilannya akan bertambah,” ujar Suparman, Sabtu (31/10/2026).
Suparman menerangkan lebih lanjut bahwa tingginya mobilitas serta lonjakan jumlah pengunjung selama empat hari perhelatan berlangsung diyakini bakal membuka peluang transaksi jual beli yang sangat menguntungkan bagi para pedagang makanan tradisional, perajin souvenir, serta pelaku ekonomi kreatif di sekitar lokasi acara.
Meski begitu, mekanisme teknis perihal tata cara pendaftaran, syarat keterlibatan, hingga penataan zonasi lapak berjualan saat ini masih dalam tahap pembahasan intensif di tingkat internal dinas. Suparman menyebut koordinasi teknis bersama bidang terkait terus dimatangkan agar pelaksanaan pameran dan penataan UMKM di area festival dapat berjalan tertib, aman, dan adil.
Pada perhelatan tahun 2026 ini, dukungan konkret dari pemerintah daerah tercatat mengalami peningkatan signifikan. Alokasi anggaran untuk festival ini dinaikkan secara bertahap dari semula Rp200 juta kini menjadi Rp300 juta melalui pos anggaran APBD Perubahan. Penambahan suntikan dana tersebut juga berimbas langsung pada perpanjangan durasi pergelaran dari yang semula tiga hari kini menjadi empat hari empat malam penuh.
“Penambahan anggaran ini juga berimplikasi positif pada durasi pergelaran yang diperpanjang dari tiga hari menjadi empat hari empat malam. Lewat persiapan matang tersebut, Festival Nondoi 2026 diharapkan sukses mengintegrasikan nilai budaya sekaligus menggerakkan roda perekonomian,” pungkas Suparman. (Adv)













