Top Banner
AdventorialKutim

Pemkab Kutai Timur Berupaya Lestarikan Bahasa Daerah Lewat Sekolah dan Keluarga

340
×

Pemkab Kutai Timur Berupaya Lestarikan Bahasa Daerah Lewat Sekolah dan Keluarga

Sebarkan artikel ini

DEPOK – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus mendorong pelestarian Bahasa Kutai melalui pendidikan formal sekaligus penggunaan dalam kehidupan keluarga. Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, menilai kedua lingkungan tersebut harus berjalan beriringan agar bahasa daerah tidak sekadar menjadi materi pembelajaran di sekolah.

Mahyunadi menyampaikan pandangan itu dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) 2026 di Depok, Jawa Barat. Dalam kegiatan tersebut, ia menerima penghargaan kepala daerah dalam program revitalisasi bahasa daerah. 

Menurutnya, sekolah telah memiliki peran penting dalam mengenalkan bahasa daerah kepada generasi muda. Namun, penggunaan Bahasa Kutai perlu diteruskan di rumah karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak membentuk identitas kebudayaannya.

“Bahasa daerah jangan hanya dipelajari di sekolah, tetapi juga harus digunakan di rumah sebagai bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari,” ujarnya. 

Mahyunadi menilai tantangan pelestarian bahasa daerah semakin besar karena anak-anak, khususnya di wilayah perkotaan dan kawasan penyangga industri, semakin akrab menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing. Kondisi tersebut membuat bahasa daerah berpotensi semakin jarang digunakan. 

Padahal, bahasa daerah tidak hanya menyimpan kosakata. Di dalamnya terdapat nilai budaya, sejarah, tata krama, petuah, kearifan lokal, dan falsafah hidup yang diwariskan secara turun-temurun. 

“Kalau hanya diajarkan di sekolah tanpa dipakai di rumah, lama-lama anak-anak menganggap bahasa daerah hanya sebatas pelajaran, bukan bagian dari identitas mereka,” katanya. 

Di Kutim, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan telah menerapkan muatan lokal Bahasa Kutai pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Kebijakan tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi. 

Mahyunadi berharap generasi muda tidak merasa canggung menggunakan Bahasa Kutai dalam keluarga maupun pergaulan sehari-hari. Menurutnya, bahasa hanya akan bertahan apabila digunakan secara alamiah oleh masyarakat.

“Generasi muda memiliki peran penting menjaga Bahasa Kutai agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya.(adv)

Total Views: 328

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *