BENGALON — Hari itu, lorong waktu seolah mempertemukan ujung sebuah babak dengan titik anjak masa depan. Di Kecamatan Bengalon, sebanyak 179 pemuda lokal resmi dikukuhkan dalam Wisuda Legacy Training Program PT Pamapersada Nusantara (PAMA) Site KPCB. Mengusung tema “Warisan Kompetensi untuk Masa Depan Berkelanjutan”, perhelatan ini bukan sekadar seremoni kelulusan di atas kertas.
Ia adalah muara dari tempaan fisik dan mental yang melelahkan. Selama program berjalan, para peserta digembleng untuk menaklukkan unit raksasa: Dump Truck Komatsu HD 785-7.
Bagi Hariandi, salah satu peserta yang lolos, pencapaian ini melampaui batas kelegaan biasa. Di balik senyumnya tersimpan memori tentang proses panjang yang menuntut disiplin tingkat tinggi.
“Alhamdulillah, perasaan saya senang sekali bisa lulus. Banyak sekali manfaat yang kami dapatkan, mulai dari koneksi, relasi, hingga pengalaman berharga,” ujar Hariandi usai pengukuhan.
Standar yang dipatok PAMA bukanlah kompromi. Dari total 207 pendaftar yang mengadu nasib di awal program, hanya 179 orang yang bertahan hingga garis akhir. Sebanyak 28 peserta lainnya terpaksa disingkirkan demi menegakkan regulasi ketat industri pertambangan.
Angka eliminasi tersebut menegaskan satu hal: industri tambang tidak memberi ruang bagi kelalaian. Terlebih, unit yang mereka pelajari bukanlah kendaraan sembarangan. Komatsu HD 785 dibekali mesin 30.000 cc dengan 12 silinder—kapasitas yang setara dengan 15 kali lipat mesin mobil penumpang standar. Di balik kemudi kendaraan raksasa ini, sedikit saja kesalahan kalkulasi di lapangan dapat berujung pada pertaruhan nyawa.
Karena itulah kurikulum yang diberikan tidak sekadar cara memegang kemudi. Para pemuda Bengalon ini diuji secara komprehensif mulai dari Pelaksanaan Perawatan Harian (P2H), pemahaman komponen internal mesin, pengoperasian panel digital, hingga internalisasi budaya keselamatan kerja (safety).
“Harapan saya ke depan, semoga ilmu dan kompetensi setelah training ini bisa menjadi bekal berharga agar kami semua bisa menjadi operator yang andal dan diinginkan oleh industri,” ucap Hariandi penuh optimisme.
Investasi Manusia yang Melampaui Batas Operasional
Nuansa haru dan bangga kian pekat tatkala manajemen PAMA memberikan apresiasi khusus bagi 50 peserta terbaik. Berdasarkan kalkulasi nilai akademik dan praktik, mereka berhak membawa pulang perangkat komputer Core i5 generasi ke-6—sebuah instrumen penunjang literasi digital yang dihadirkan untuk mendongkrak kualitas keluarga di rumah.
Project Manager PAMA KPCB, Sigit Nugroho, dalam sambutannya menegaskan bahwa transfer pengetahuan ini adalah bentuk human capital paling autentik yang bisa ditinggalkan korporasi kepada masyarakat lingkar tambang.
“Investasi terbesar bukan pada alat atau teknologi, tapi pada manusia. Kami ingin meninggalkan sesuatu yang lebih bermakna, tidak lekang oleh waktu, dan tidak akan habis meskipun dibagikan kepada orang banyak. Warisan itu adalah ilmu, keterampilan, dan harapan untuk masa depan,” ujar Sigit.
Pesan senada turut disampaikan oleh Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, yang hadir untuk menutup rangkaian program secara resmi. Di hadapan para wisudawan, ia menitipkan pesan agar legalitas kompetensi yang kini berada di tangan mereka tidak lantas membuat lengah.
“Saya berpesan agar para lulusan yang kini telah memegang anugerah ilmu legal ini dapat menjaga amanah dengan penuh tanggung jawab serta menjadi safety officer bagi diri sendiri saat berkarier di dunia industri kelak,” tegas Ardiansyah.
Ada ironi sekaligus keindahan di balik momentum tersebut. Pengukuhan ini berlangsung di tengah kenyataan bahwa masa tugas operasional proyek PAMA Site KPCB di Bengalon telah purna per 19 Mei lalu. Namun, bagi 179 pemuda Bengalon, berakhirnya sebuah proyek korporasi tidak menyurutkan roda kehidupan.
Sertifikasi keterampilan mengoperasikan HD 785 yang kini digenggam justru menjadi tiket sah untuk menembus pasar kerja industri pertambangan nasional, merajut asa di atas fondasi kemandirian yang berkelanjutan.(adv)













